BREAKINGNEWS.CO.ID – Bank Indonesia meyakini nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar dan  mata uang utamanya masih akan menguat secara perlahan karena sejumlah factor. Dalam pandanggan Gubernur BI  Perry Warjiyo, salah satu factor utamya adalah  adanya upaya konsisten dalam  perbaikan fundamental ekonomi di dalam negeri belakangan ini. "Secara fundamental, rupiah masih overvalue terhadap dolar AS, tapi rupiah masih ada potensi menguat berdasarkan hitung-hitungan fundamental," kata Perry  di Jakarta, Jumat (13/7/2018).

Perry menjelaskan perbaikan fundamental ekonomi dalam negeri tersebut terlihat dari beberapa faktor. Pertama, inflasi yang masih terjaga rendah hingga pertengahan tahun ini.

Berdasarkan hasil survei pemantauan harga BI hingga pekan kedua bulan ini, inflasi Juli 2018 sebesar 0,23 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Sedangkan secara tahunan (year-on-year/yoy) inflasi hanya sebesar 3,14 persen.

"Angka ini jauh lebih rendah dari bulan lalu sebesar 0,59 persen dan jauh lebih rendah di rata-rata historis inflasi Juli dalam tiga tahun terakhir 0,54 persen," ucapnya.

Ia yakin dengan kondisi tersebut sampai akhir tahun nanti inflasi bisa sesuai target BI sebesar 3,5 persen plus minus 1 persen. Untuk menjaga keyakinan tersebut BI dan pemerintah pusat dan daerah akan menggelar rapat koordinasi pada 25-26 Juli 2018.

Faktor kedua, pertumbuhan ekonomi. Perry mengatakan ekonomi kuartal II 2018 akan tumbuh lebih baik dari kuartal I 2018 sebesar 5,06 persen. "Mungkin pertumbuhan ekonomi sedikit lebih rendah dari 5,2 persen, tapi kuartal II tetap lebih tinggi dari kuartal I," katanya.

Ketiga, investasi. BI memperkirakan aliran modal masuk (capital inflow) akan membaik Juli ini paska kenaikan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin beberapa waktu lalu.

Kondisi tersebut sudah terlihat dari capital inflow ke Surat Berharga Negara (SBN) yang periode 2-12 Juli kemarin mencapai Rp7,1 triliun. "SBN ini mulai berdaya saing, sehingga menimbulkan arus inflow dan kepercayaan investor cukup kuat," terangnya.

keempat, likuiditas dolar AS di pasar keuangan domestik dari korporasi yang rata-ratanya sudah US$500-600 juta per hari. Menurutnya, jumlah dolar AS ini mencukupi kebutuhan dan mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Rupiah sampai dengan pertengahan Juli ini masih bergerak lemah di atas lever Rp14.000- an. Sampai Jumat (13/7) siang, rupiah masih berada di level Rp14.379 per dolar di pasar spot.