BREAKINGNEWS.CO.ID – Kandidat yang akan menjadi tempat pertemuan bersejarah antara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dan pemimpin tertinggi Korea Utara, Kim Jong-un pada tahun 2019 ini bertambah. Hawaii, Singapura, dan Vietnam tengah dipertimbangkan untuk menjadi tempat perhelatan tatap muka lanjutan antara kedua pemimpin negara tersebut.

"Lokasi yang disebutkan oleh media termasuk Vietnam, Singapura dan Hawaii," tutur seorang pejabat kementerian urusan luar negeri Korea Selatan kepada surat kabar Korea Herald, seperti dilansir Channel NewsAsia, pada Jumat (11/1/2019).

Pemerintah Korea Selatan berharap pertemuan antara Trump dan Jong-un bisa digelar di Zona Demiliterisasi Panmunjom. Akan tetapi, kemungkinan besar hal itu tidak bakal terjadi. Para petinggi Korut dan Korsel pernah mengadakan pertemuan Panmunjom pada April tahun 2018 lalu. "Kami ingin mengadakan pertemuan di Panmunjom, tetapi kemungkinannya sangat tipis," kata sumber itu.

Presiden Korea Selatan, Moon Jae-in kemarin mengatakan pertemuan antara Trump dan Jong-un akan segera berlangsung. Pada awal pekan ini beredar kabar pejabat Kementerian Luar Negeri AS telah beberapa kali bertemu dengan perwakilan Korut di ibu kota Hanoi, Vietnam, untuk membahas rencana pertemuan kedua kepala negara itu.

Menurut sumber-sumber diplomatik, ibu kota Vietnam diduga akan menjadi tuan rumah pelaksanaan pertemuan, lantaran berkaca pada hubungan diplomatik antara Vietnam dengan AS dan Korut. Sedangkan Singapura adalah lokasi KTT Trump dan Kim yang digelar pada Juni 2018 lalu. Negara itu kembali dipertimbangkan karena jaraknya yang tak begitu jauh dari Ibu Kota Korea Utara, Pyongyang. Pertimbangan lainnya adalah soal transportasi dan jarak.

Jet pribadi Ilyushin-62M milik Jong-un mampu menempuh jarak perjalanan 10 ribu kilometer. Dengan burun besi itu dia bisa mencapai Singapura, Hanoi dan Hawaii. Akan tetapi, pesawat kargo Ilyushin-76 milik Korut tidak dapat terbang lebih dari 3000 kilometer tanpa mengisi bahan bakar jika membawa muatan penuh. Pertemuan kedua antara kedua kepala negara ini pertama kali disinggung Trump setelah ia menerima surat dari pemimpin Korut.

Surat tersebut diterima Trump setelah Kim dalam pidato tahunannya mengancam akan membatalkan denuklirisasi jika Washington tak kunjung melonggarkan sanksi yang diberikan AS. Pada pertemuan KTT pertama, kedua kepala negara sepakat untuk memajukan denuklirisasi semenanjung Korea. Namun sampai saat ini, persetujuan di antara keduanya masih belum menunjukkan kemajuan.