BREAKINGNEWS.CO.ID - Tahun 2018 tak lama lagi berakhir. Pada tahun ini, ada sejumlah cerita menarik yang menyelimuti sepak bola Indonesia. Hanya saja, dari sekian kejadian di sepak bola Indonesia selama 2018, ceritanya begitu-begitu saja. Hampir tidak ada prestasi hanya banyak sensasi.

Indonesia mengawali tahun 2018 dengan uji coba dengan salah natu negara yang menjadi perbincangan dunia yakni Islandia. Negara berpenghuni 334 ribu penduduk itu mampu melaju ke Piala Dunia 2018. Meski tidak masuk kalender resmi FIFA, laga uji coba ini sarat akan gengsi dan menjadi tolok ukur permainan tim Garuda di bawah arahan Luis Milla. Islandia pun menunjukan perbedaan level permainan yang signifikan dengan Timnas Indonesia. Dalam dua laga uji coba, tim Skandinavia itu meraih kemenangan telak 6-0 dan 4-1 atas tim Garuda.

Tarik Ulur Jadwal Liga 1

Ditektur Utama PT Liga Baru Indonesia (LIB), Berlinton Siahaan saat peresmian Liga 1 2018
(Foto: Dok. Robbi Yanto/breakingnews.co.id)

Seperti hal yang sudah-sudah, penentuan jadwal kompetisi kasta teratas sepak bola Indonesia yang saat ini disebut Liga 1 pada tahun 2018 diwarnai sejumlah drama. Bagaimana tidak, kompetisi resmi bisa tertunda akibat turnamen pramusim yang bernama Piala Presiden dan Piala Gubernur Kaltim. Rencana awal, Liga 1 2018 digelar pada pekan ketiga atau keempat Februari 2018. Namun, saat itu, Chief Operating Officer PT Liga Indonesia Baru, Tigorshalom Boboy, mengungkapkan, jadwal Liga 1 2018 berpotensi mundur lagi dari jadwal 3 Maret ke 10 Maret. Benar saja, setelah mengalami perubahan jadwal beberapa kali, akhirnya kick off Liga 1 2018 diputuskan akan mulai digelar 23 Maret.


Timnas Indonesia U-16 Juara Piala AFF 2018

Timnas Indonesia Juara Piala AFF U-16 2018 (Foto: Dok. afc)

Sedikit pelipur lara bagi masyarakat Indonesia yang haus akan prestasi Timnas Indonesia diberikan oleh anak-anak muda Indonesia. Timnas Indonesia U-16 sukses menjadi juara Piala AFF U-16 2018. Pasukan Fakhri Husaini menaklukkan Thailand U-16 di partai final yang digelar di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo 11 Agustus 2018 melalu babak adu penalti. pada waktu normal, kedua tim bermain imbang 1-1. Kiper Indonesia, Ernando Ari Sutaryadi berhasil menepis dua tendangan pemain Thailand. Sementara keempat algojo Indonesia mampu menjalankan tugasnya dengan baik. Indonesia berhasil menang dengan skor 4-3. Ini adalah gelar pertama Indonesia di kompetisi ini sejak pertama kali digelar pada tahun 2002.

Gagal ke Semifinal Asian Games 2018

Timnas Indonesia U-23 terhenti di babak 16 besar Asian Games 2018
(Foto: Dok.Aditya Rakasiwi/breakingnews.co.id)

PSSI selaku federasi sepak bola Indonesia dengan percaya diri mengusung misi lolos ke semifinal pada ajang multi event terbesar di Asia ini. Alasannya adalah pada kompetisi ini, Indonesia berlaga di rumah sendiri. Namun, nyatanya Timnas Indonesia U-23 hanya sampai di babak 16 besar. Tim yang ditangani Luis Milla itu dihentikan oleh Uni Emirat Arab (UEA) lewat drama adu penalti skor 3-4 (2-2) dalam pertandingan babak 16 besar yang dihelat di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Jumat 24 Agustus 2018.

Sejarah mencatat sepanjang keikutsertaan Timnas Indonesia di Asian Games, hanya pada edisi 1958 dan 1986 Tim Merah-Putih sukses melangkah ke fase empat besar. Pada 1958 bahkan negara kita sempat meraih medali perunggu. Pencapaian Timnas Indonesia U-23 besutan Milla sama seperti tim asuhan Aji Santoso empat tahun silam. Kala itu Tim Garuda Muda juga terhenti di babak 16 besar, dikalahkan Thailand 0-6. Kegagalan ini menjadi luka yang menyakitkan bagi Hansamu Yama dkk.

Drama Perpanjangan Kontrak Luis Milla

Lika-liku perpanjangan kontrak Luis Milla berakhir pahit
(Foto: dok. Robbi Yanto/breakingnews.co.id)

Seiring dengan kegagalaan Timnas Indonesia U-23 di Asian Games 2018, berakhir pula kontrak Luis Milla bersama PSSI. Namun, atas desakan masyarakat Indonesia, yang merasa terhibur dan melihat gaya permainan Timnas Indonesia lebih baik saat ditangani Luis Milla, PSSI diminta untuk memperpanjang kontrak pelatih asal Spanyol tersebut. Selain itu, banyak pihak yang menilai gonta-ganti pelatih tidak memungkinkan karena Timnas Indonesia akan berlaga di Piala AFF pada November 2018.


Drama pun dimulai. Pada akhir Agustus 2018, lewat rapat Komite Eksekutif (Exco), PSSI memutuskan untuk memperpanjang kontrak Milla. PSSI menginginkan Milla setidaknya melatih Skuat Garuda setahun lagi. Saat mengumumkan secara resmi kepada publik hasil rapat Exco itu, Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi menegaskan, PSSI berharap Milla menerima tawaran perpanjangan kontrak dengan alasan objektif.

Kala negosiasi awal antara PSSI dan Milla berjalan, salah satu anggota Exco PSSI Gusti Randa yang membocorkan kepada wartawan pada awal September, bahwa PSSI masih menunggak tiga bulan gaji Luis Milla. Gusti pun menyebut angka Rp 2,3 miliar per bulan bayaran yang diterima Milla.

Masa perpanjangan kontrak itu pun berlarut. Padahal, Timnas Indonesia harus segera melakoni laga uji coba untuk persiapan di Piala AFF. Alhasil, PSSI mempercayaka posisi Luis Milla kepada asistennya, Bima Sakti. Sembari mencari solusi kesepakatan dengan mantan pemain Real Madrid dan Barcelona itu. Hasilnya, dari tiga laga uji coba timnas Indonesia tanpa Milla, Indonesia tidak pernah kalah. Menang 1-0 atas Mauritius pada 11 September, Beto Goncalves dkk kembali menang atas Myanmar pada 10 Oktober dengan skor telak 3-0. Terakhir melawan Hongkong, Indonesia ditahan seri 1-1 pada 16 Oktober. Semua laga dimainkan Indonesia selaku tuan rumah.

Suporter Indonesia pun mulai sedikit melupakan Luis Milla. Akan tetapi, cerita baru pun datang saat dokter Timnas Indonesia Syarif Alwi mengungkap informasi, bahwa Milla telah siap kembali ke Tanah Air.

Selama ini ternyata, Syarif menjalin komunikasi secara ekstensif dengan Milla. Syarif mengklaim mendapat pesan WA dari Milla bahwa pelatih berusia 52 tahun itu sebenarnya sudah siap berangkat ke Indonesia, tetapi PSSI belum membelikan tiket pesawat untuknya. Syarif pun membantah ‘tuduhan-tuduhan’ yang selama ini beredar, bahwa Milla adalah pelatih yang jual mahal dan sulit dalam hal negosiasi. Ia pun mengungkapkan bahwa, Milla sebenarnya sudah menyusun program kepelatihan untuk memenuhi target juara AFF tahun ini dan siap menggeber programnya itu mulai 1 November. Pada 21 Oktober 2018, PSSI pun akhirnya menunjuk Bima Sakti sebagai pelatih Timnas Indonesia di Piala AFF 2018.

Gagal Total di Piala AFF 2018

Timnas Indonesia terhenti di fase grup Piala AFF 2018 (Foto: Dok.aff)

Penunjukan Bima Sakti sebagai pelatih Timnas Indonesia menjadi bumerang. Kekalahan 0-1 dari Singapura menjadi awal keterpurukan Stefano Lilipaly dkk. di Piala AFF 2018. Dari empat pertandingan fase Grup B, Timnas Indonesia hanya menang 3-1 atas Timor Leste. Tim Merah-Putih juga takluk 2-4 dari Thailand dan bermain 0-0 kontra Filipina.

Semua hasil tersebut memaksa Timnas Indonesia menghuni peringkat keempat di klasemen akhir Grup B, karena hanya mendulang empat poin. Mereka pun dipastikan gagal menembus semifinal. Bima menjadi sosok yang dianggap harus mempertanggung jawabkan hasil negatif Timnas Indonesia. Pada Desember 2018, PSSI akhirnya resmi melengserkan sosok 42 tahun itu dari kursi kepelatihan timnas senior. Sebagai gantinya, PSSI menunjuk Simon McMenemy untuk menangani Timnas Indonesia. Sang pelatih diikat kontrak berdurasi dua tahun agar mempersiapkan Garuda berjala di Piala AFF edisi 2020.