BREAKINGNEWS.CO.ID - Tahun 2018 segera berakhir. Tapi, tahun 2018 akan selalu diingat oleh bangsa Indonesia dalam hal prestasi di bidang olahraga. Tahun 2018 menjadi saksi Indonesia mampu bersaing dengan negara-negara Asia dalam panggung yang bernama Asian Games 2018. Asian Games 2018 yang bersejarah mengantarkan Indonesia ada di peringkat keempat perolehan medali di bawah tiga raksasa Asia Cina, Jepang, dan Korea Selatan.

Asian Games Pertama yang Digelar di Kota

Suasana pembukaan Asian Games 2018 (Foto: Dok. Aditya Rakasiwi/breakingnews.co.id)

Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang menjadi Asian Games pertama digelar di dua kota. Sejak 1951, Asian Games hanya digelar di satu kota. Meski berlabel Asian Games 2018 Jakarta dan Palembang, namun turnamen multi event paling bergengsi se-Asia ini tidak hanya berlangsung di Jakarta dan Palembang. Jawa Barat (Bandung, Bogor, Bekasi, Cikarang, Subang, Majalengka) dan Banten (Tigaraksa) juga menggelar sejumlah cabang olahraga di Asian Games 2018.

Indonesia sejatinya mendapatkan "hibah" dari Vietnam yang semula terdaftar sebagai tuan rumah Asian Games 2018. Namun, di tengah jalan Perdana Menteri Vietnam, Nguyen Tan Dung, yang dengan tegas menyampaikan Vietnam menarik diri sebagai tuan rumah Asian Games Hanoi 2018. Saat itu, kondisi ekonomi Vietnam dinilai belum pulih sejak terpapar krisis keuangan global dan resesi ekonomi sejak 2012.

Menurut Tan Dung, kas negara tidak cukup untuk menutupi biaya penyelenggaraan Asian Games 2018, meski efisiensi belanja negara di berbagai kementerian dan lembaga Vietnam sudah dilakukan. Kementerian Olahraga Vietnam memperkirakan anggaran penyelenggaraan Asian Games 2018 sebesar $150 juta dan Vietnam secara resmi memenangkan tender Asian Games pada November 2012.

Tugas Besar pun ditanggung oleh Indonesia. Pada 2014 Dewan Olimpiade Asia (OCA) menetapkan Jakarta dan Palembang sebagai tuan rumah Asian Games ke-18. Pihak-pihak yang berkepentingan dalam kesuksesan Asian Games pun mulai bekerja keras. Wajar saja, karena saat itu karena sempitnya waktu dan infrastruktur yang tidak sepenuhnya siap. Untuk event sebesar Asian Games, minimal waktu yang diberikan oleh OCA adalah enam tahun, seperti pada Asian Games sebelumnya.

Dalam kurun waktu kurang dari empat tahun menuju 2018 persiapan pun dikebut dari berbagai aspek, di antaranya pembangungan venue-venue, infrastrukur pendukung, personel, penggalangan dana, promosi, hingga persiapan para atlet. Di bidang infrastruktur, pemerintah Indonesia membangun sebanyak sembilan venue baru, termasuk lima tower di Kemayoran untuk perkampungan atlet Selain itu renovasi besar-besaran juga dilakukan pada kompleks olahraga Gelora Bung Karno di Jakarta dan kompleks Jakabaring Palembang.

Masalah tak hanya disitu, Pemprov Jakart juga harus memutar otak untuk menyiasati bagaimana dapat mengurai atau mengurangi kemacetan Ibu Kota yang selama ini menjadi momok. Sebab, Dalam peraturan OCA batas maksimal atlet dari wisma yang mereka tempati ke venue hanya 30 menit. Akhirnya muncul kebijakan ganjil-genap pada sejumlah ruas jalan, khususnya yang akan dilewati para atlet Asian Games.

Pembukaan Megah dan Aksi Jokowi

Sosok yang menggambarkan Jokowi di pembukaan Asian Games 2019 (Foto: Dok. inasgoc)

Tanggal 18 Agustus 2018 itu pun tiba. Asian Games ke-18 resmi dibuka di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta yang telah direnovasi total menjadi lebih moderen. Satu hal yang paling diingat olah bangsa Indonesia saat itu tayangan video Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang keluar dari Istana Bogor menuju Stadion Utama Gelora Bung Karno yang diputar pada pembukaan Asian Games.

Menaiki mobil RI-1, Jokowi menuju SUGBK dengan kawalan ketat Paspampres. Dia sempat melewati jembatan Semanggi, Jakarta dan terjebak macet. Tak kehabisan akal, sosok yang digambarkan sebagai Jokowi itu turun dari mobil dan menggunakan sepeda motor milik Paspampres.

Motor yang ditungganginya bahkan melompati mobil-mobil untuk menembus kemacetan. Dia juga melewati gang-gang sempit di area pemukiman. Lepas dari kemacetan, Jokowi kemudian kembali dikawal oleh rombongan Paspampres yang menaiki sepeda motor. Diceritakan, Jokowi tiba di SUGBK tepat ketika acara pembukaan akan dilangsungkan.

Jokowi pun langsung masuk ke stadion masih dengan tunggangannya sembari melambaikan tangan. Diperlihatkan pula, sosok yang digambarkan sebagai Jokowi kemudian memarkir motornya dan kemudian masuk lift dengan pengawalan Paspampres menuju panggung upacara. Tepat ketika pintu lift terbuka, sosok asli Jokowi pun muncul di panggung utama dan mendapat sambutan meriah.


Jokowi dan Prabowo Berpelukan

Jokowi berpelukan dengan Prabowo (Foto: Dok.inasgoc)

Momen bersejarah tercipta saat laga final pencak silat Asian Games 2018 di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Rabu (29/8). Dua calon presiden yang akan bertarung pada Pilpres 2019, Jokowi dan Prabowo, berpelukan bersama pesilat Hanifan Yudani Kusuma. Usai mengalahkan Thai Linh Nguyen, pesilat dari Vietnam, di kelas 55-60 kilogram, Hanifan melakukan selebrasi. Tanpa diduga, Hanifan mendatangi tribun kehormatan tempat Jokowi dan Prabowo duduk berdampingan. Setelah menyalami kedua capres itu, Hanifan mengajak kedua tokoh tersebut berpelukan bersama. Penonton yang hadir segera bersorak sorai bergembira.

Medali Terbanyak Sepanjang Sejarah Indonesia

Presiden Joko Widodo (bawah tengah) memberikan medali emas kepada pesilat Indonesia
peraihmedali emas Wewey Wita (atas tengah),
didampingi Ketua PB IPSI Prabowo Subianto (kiri) (Foto: Dok. inasgoc)

Sebelumnya, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menargetkan posisi 10 besar dengan total raihan 20 medali emas dari 11 cabang olahraga. Rinciannya adalah pencak silat lima emas, bulutangkis (2), paralayang (2), panjat tebing (2), jetski (2), bridge (2), wushu (1), angkat besi (1), dayung (2) dan taekwondo (1). Dari 11 cabor yang ditarget, hanya lima cabor yang masuk daftar Olimpiade.

Namun, target melebihi ekspektasi, Indonesia berhasil mengumpulkan 31 medali emas, 24 medali perak, dan 43 medali perunggu. Melalui sebaran raihan medali tersebut, Indonesia pun menyudahi Asian Games 2018 di peringkat keempat. Indonesia di bawah tiga raksasa Asia yaitu Cina 132 medali emas, 92 perak, dan 65 perunggu, Posisi kedua menjadi milik Jepang dengan 205 medali. Tambahan satu emas dari nomor triatlon campuran mengukuhkan posisi Negeri Sakura dengan 75 emas, 56 perak, dan 74 perunggu. Korea Selatan yang mendapat medali perak dari triatlon campuran memiliki total 177 medali dan berada di posisi ketiga. Tim Negeri Ginseng mendapat 49 emas, 58 perak, dan 70 perunggu.

Emas pertama Indonesia datang dari cabang olahraga taekwondo sehari selepas pembukaan atau tepatnya pada (19/8). Dia adalah Defia Rosmaniar yang tampil di nomor poomsae Defia di babak final berhadapan dengan wakil Iran Salahshouri Marjan, Defia menang dengan skor 8.690-8.470.

Di sisi lain, dari 31 medali emas yang didapat Indonesia di Asian Games, setengah di antaranya dihasilkan oleh olahraga asli Indonesia, pencak silat. Ditargetkan untuk meraih lima medali emas dari 16 nomor yang diperebutkan di Padepokan Pencak Silat TMII. Pada kenyataannya Indonesia mampu memborong 14 medali emas dari pencak silat.Dominasi Indonesia di perolehan medali pencak silat justru menimbulkan polemik. Beberapa negara peserta menilai terdapat kecurangan yang terjadi di pencak silat yang dilakukan wasit. Hal itu langsung dibantah tegas oleh Panitia Penyelenggara Asian Games 2018 (INASGOC) maupun Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI).

Nilai A Plus dari Wapres JK

JK Beri Nilai A Plus untuk Pelaksanaan Asian Games 2018 (Foto: Dok.inasgoc)

Setelah penyelenggaraan, Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) memimpin rapat terakhir mengenai evaluasi pelaksanaan Asian Games, pada Desember 2018. JK menuturkan, banyak negara mengapresiasi Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games ke-18. Ia mengatakan, tidak ada kritikan mengenai penyelenggaraan Asian Games 2018. Kata JK, kritikan yang muncul hanya terlalu pendeknya masa penyelenggaraan Asian Games. "Masa cuma dua minggu. Harusnya sebulan," kata dia.

Jika diibaratkan nilai pelajaran dalam sekolah, JK memberikan nilai A plus untuk para panitia. Menurut dia, ada tiga hal yang dievaluasi, di antaranya sarana, penyelenggaraan, dan prestasi. "Dan semua tiga hal itu melampaui di atas apa yang direncanakan," katanya.