JAKARTA - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan menerjunkan aparatnya melakukan operasi simpatik terhadap taksi online terkait sosialisasi Peraturan Menteri Perhubungan (Permenhub) 108 Tahun 2017 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak Dalam Trayek.

"Di Februari ini kita akan melakukan operasi simpatik. Kami lakukan penyisiran, untuk kendaraan online yang belum mempunyai izin kami arahkan untuk mengurus izinnya, yang belum melakukan uji KIR kami akan mengarahkan mereka agar melakukan uji KIR," kata Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi (Dishubtrans) DKI Jakarta, Andri Yansyah di Polda Metro Jaya, Jumat (2/2/2018).

Andri meminta para pengemudi taksi online untuk melengkapi persyaratan administrasi kendaraannya untuk menyesuaikan diri dengan peraturan baru yang afa. Andri menyatakan belum tahu kapan batas akhir sosialisasi itu sampai Permenhub benar-benar diterapkan. 

Terhadap tindak lanjut pasca sosialisasi dilakukan, Andri tidak jelas menyebutkan kapan batas akhirnya karena belum ada instruksi dari Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, soal penindakan. "Maka dari itu, sampai sekarang, sifatnya masih sebatas sosialisasi," ujarnya.

"Karena seumpama berbicara aturan, KIR atau tidak ijin itu masuk pelanggaran berat, harusnya distop operasinya atau dikandangkan. Tapi karena arahan dari Kemenhub operasi simpatik dulu dilakukan, ini kita lakukan, tapi penindakannya belum," sambungnya.

Sementara para pengemudi taksi online sendiri, suaranya masih terbagi. Namun kbanyak bisa menerima PM Perhubungan No. 108 itu. "Bagi saya KIR tak ada masalah. Saya sudah melakukan KIR pada mobil saja. Namun soal stiker dfan SIm A Umum, itu yang menjadi pertanyaan kami," ujar Joni Arbert, pengemudi taksi online yang mengemudikan Suzuki Ertiga miliknya.

Untuk stiker memang menjadi keberatan karena dianggap terlalu besar. Apalagi saat ini di sejumlah area masih terdapat penolakan dari ojek dan taksi konvensional terhadap kehadiran taksi online. "Apa polisi dan Dishub bisa menjamin keselamatan kami di jalan, terutama di area merah itu?" tanya Joni Arbert. 

Sementara persoalan SIm A Umum, Joni malah balas bertanya, lantaran sopir taksi konvensional pun kebanyakan juga tidak memiliki SIm A Umum. "Terbukti dari teman-teman kami yang mantan pengemudi taksi konvensional, mereka mengaku tidak pernah memiliki SIM A Umum. Jadi kalau benar-benar diberlakukan harus semua agar adil," kata Joni.