WAITABULA - Misa Jumat Agung yang berlangsung di Katedral Waitabula di Kabupaten Sumba barat Daya, Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT) disertai doa ratapan yang dibawakan oleh seorang ibu di depan patung salib Yesus, tepat sebelum ibadah penciuman salib. Sejumlah umat pun memadati gedung hingga ke halaman dalam ibadah yang dipimpin oleh pastor Louis Keban. Ibadah tersebut pun berlangsung sejak pukul 15.00 hingga pukul 18.00 WITA.

Pembawa doa ratapan adalah Maria Bela, perempuan paruh baya yang mengenakan busana berwarna hitam serta kerudung hitam. Dia berdoa sambil meratap dan menangis, menceritakan kisah hidup Yesus Kristus dari masa kanak-kanak hingga pengorbanannya di kayu salib untuk penebusan dosa-dosa umat. Doa ratapan yang diiringi suara musik tradisional gong asuhan Philipus Fernandez, dibawakan dalam bahasa daerah Sumba yaitu bahasa Wewewa salah satu etnik di Sumba Barat Daya (SBD), membuat beberapa anggota umat terlihat mengusap mata, menangis terharu.

"Meskipun tidak memahami sepenuhnya tetapi saya terharu karena cara meratapnya sangat menyentuh," ujar Anggriani seorang warga yang mengikuti misa. "Isi ratapan antara lain menjelaskan pengorbanan Yesus Kristus yang rela menderita dan wafat di kayu salib untuk menebus dosa kita," kata Anita, salah seorang anggota kelompok paduan suara dalam ibadah tersebut. "Ibu Maria Bela tadi menyampaikan perjalanan hidup Yesus yang lahir hina dina di kandang sampai pada wafat dengan sengsara di kayu salib," tutur Angela yang juga anggota paduan suara.

Dalam ibadah Jumat Agung tersebut, kelompok paduan suara yang dipimpin oleh Anita Tana, membawakan serangkaian lagu tanpa iringan musik yang menjadi ciri ibadah tersebut. Selain itu, pada pagi harinya sejumlah gereja dan katedral di keuskupan Waitabula melaksanakan ibadah jalan salib antara lain dengan prosesi di sekitar gereja, di jalan raya dan drama penyaliban Yesus dengan mengangkat kisah penyaliban dari injil. Umat Katolik di SBD juga menyiapkan serangkaian ibadah untuk Sabtu Suci dan Minggu Paskah, dalam rangkaian tiga hari suci sejak Kamis Putih pada 29 Maret 2018.