JAKARTA - Terkait siapa yang akan menggantikan Agus Martowardojo sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI) kini terjawab sudah. Presiden Joko Widodo mengajukan satu nama tunggal yang akan mengisi posisi Gubernur BI tersebut kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang bersifat rahasia.

Setelah sempat lama menutup informasi terkait nama-nama para calon orang nomor satu di Bank Indonesia (BI). Akhirnya hanya ada satu calon yang diusulkan melalui surat dari pemerintah kepada DPR. Surat itu juga bersifat rahasia, sehingga hanya Pimpinan DPR saja yang mengetahui siapa calon yang diajukan oleh Presiden Jokowi terkait kursi panas Gubernur Bank Indonesia.

Adapun sebelum menyerahkan surat ke DPR tersebut, sejumlah nama yang akan mengisi posisi Gubernur BI dikaitkan dengan empat nama yakni Agus Martowardojo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, dan Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri. Namun dari empat nama tersebut, Jokowi memilih satu nama yang dicantumkan serta diajukan ke DPR yakni Perry Warjiyo.

Gubernur BI Agus Martowadojo mengumumkan kepada publik bahwa dirinya sudah memasuki masa pensiun atau purnatugas pada bulan Mei 2018. Meski menjalan tugas sebagai orang nomor satu di Bank Indonesia hanya menyisakan waktu bulanan. Agus berjanji akan tetap fokus menyelesaikan tugasnya dengan baik.

Dengan pensiunnya Agus, maka pucuk kepemimpinan Bank Indonesia pun akan berubah. Dia meyakini dalam masa transisi nanti, seluruh kebijakan akan terus berjalan kesinambungan dengan tugas bank senteral menjaga stabilitas sistem keuangan dan makro ekonomi Indonesia. "Saya tentu fokus menyelesaikan tugas saya dengan baik, transisinya akan dijalankan dengan baik dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan, stabilitas makro ekonomi dan seluruh bauran kebijakan BI akan tetap konsisten dari yang lalu sampai ke depan," kata Agus, Jum'at (26/1/2017)

Agus Marto ditunjuk secara resmi sebagai Gubernur Bank Indonesia pada Mei 2013. Dia dilantik setelah sebelumnya menjabat Menteri Keuangan. Agus Marto menggantikan Darmin Nasution yang kini menjabat sebagai Menko Perekonomian Kabinet Kerja Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).

Presiden Joko Widodo mengirimkan nama calon Gubernur Bank Indonesia ke DPR. Nama tersebut diserahkan untuk dilakukan uji kelayakan alias fit and proper test di kemudian hari. Surat yang disampaikan pada 23 Februari 2018 ini bersifat rahasia. Sehingga hanya Pimpina DPR saja yang mengetahui siapa saja calon yang dipilih Jokowi untuk menduduki singgasana kursi panas Bank Indonesia.

Apalagi, jauh sebelum menyerahkan surat ke DPR, calon Gubernur Bank Indonesia ini dikaitkan dengan empat nama, yakni Agus Martowardojo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo, dan Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri. Surat rahasia tersebut dikirimkan oleh Sekretariat Negara (Setneg). Surat yang sudah masuk pun akan dibacakan di Rapat Paripurna DPR, lalu dibahas di Badan Musyawarah (Bamus) untuk ditugaskan ke Komisi XI untuk melakukan uji kelayakan.

Presiden Jokowi secara tegas menyebutkan nama Deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjadi calon tunggal Gubernur Bank Indonesia. Ia mengaku mengirimkan nama Perry ke DPR untuk selanjutnya dilakukan uji kelayakan alias fit and proper test. Calon tunggal untuk Gubernur Bank Indonesia periode 2018 sampai 2023 yang diajukan Jokowi juga mengeliminasi nama-nama yang sebelumnya santer dikaitkan, yaitu Agus Martowardojo, Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, dan Mantan Menteri Keuangan Chatib Basri.

Orang nomor satu di Indonesia ini membeberkan alasan mencalonkan Perry Warjiyo sebagai penerus tongkat estafet dari Agus Martowardojo. Menurut Jokowi, Perry merupakan Deputi Gubernur BI paling senior dan menguasai moneter. "Kita tahu dari sisi pengalaman, rekam jejak, semua dilihat, prestasi, penguasaan lapangannya. Saya kira beliau adalah deputi paling senior, sudah mengerti lah mengenai moneter, inflasi, mengenai kebijakan-kebijakan di BI, bank senteral kita," kata Jokowi. "Saya kira penguasaan Pak Perry Warjiyo tidak perlu diragukan," sambungnya.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai, sosok Perry Warjiyo pantas untuk menduduki kursi Gubernur Bank Indonesia. Sebab, pengalaman bidang moneter yang dimilikinya tidak perlu diragukan lagi. Hubungan yang dijalin Perry saat menjabat sebagai Deputi Gubernur dengan Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga berjalan baik. "Pak Perry adalah sosok dari Bank Indonesia, dia di deputi gubernur selama satu term dan dia pernah juga jadi executive director di IMF. Artinya sudah ada kesempatan dan pengalaman yang bisa tingkatkan peranan gubernur Bank Indonesia yang diperlukan," katanya, Selasa (27/2/2018).

Perry Warjiyo memilih untuk irit bicara setelah mengetahui dirinya sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia periode 2018 hingga 2023. "Kok nggak ngucapin selamat ulang tahun dulu?," kata Perry, Selasa (27/2/2018). Perry Warjiyo lahir di Sukoharjo pada tanggal 25 Februari 1959. Sebelum ditetapkan sebagai Deputi Gubernur, Perry Warjiyo menjabat sebagai Asisten Gubernur untuk perumusan kebijakan moneter, makroprudensial dan internasional di Bank Indonesia. Jabatan tersebut diemban setelah menjadi Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter, Bank Indonesia. Sebelum kembali ke Bank Indonesia pada 2009, Perry Warjiyo menduduki posisi penting selama dua tahun sebagai Direktur Eksekutif di International Monetary Fund, mewakili 13 negara anggota yang tergabung dalam South-East Asia Voting Group.

Perry Warjiyo mempunyai karir yang panjang dan cemerlang di Bank Indonesia sejak tahun 1984, khususnya di area riset ekonomi dan kebijakan moneter, isu-isu internasional, transformasi organisasi dan strategi kebijakan moneter, pendidikan dan riset kebanksentralan, pengelolaan devisa dan utang luar negeri, serta kepala Biro Gubernur.