JAKARTA - Kolumnis Selandia Baru, Audrey Young mengatakan bahwa Presiden Joko Widodo tidak menghormati tuan rumah karena tidak menggelar jumpa pers untuk wartawan. Duta Besar Indonesia di Wellington, Tantowi Yahya baru-baru ini langsung mengklarifikasi.

Dalam artikel bertema "Visiting leaders show disrespect by failing to share platform with Jacinda Ardern", yang dilansir NZ Herald, Young mengatakan sebagai kepala negara adalah memalukan jika Jokowi tidak tampil dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Jacinda Ardern. Dalam tulisan disebut kalau Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru telah menawarkan konferensi pers bersama, akan tetapi ditolak oleh Indonesia.

Lewat rilisnya pada Senin (26/3/2018), Tantowi menegaskan bahwa keputusan untuk tidak membuat keterangan pers merupakan usulan Kementerian Luar Negeri dan Perdagangan Selandia Baru, yang kemudian diadopsi menjadi keputusan bersama. "Untuk konsumsi publik, hasil-hasil pertemuan akan disarikan dalam pernyataan bersama yang dimuat di situs resmi kedua negara," kata Tantowi. "Sebagai tamu, kami menghargai posisi yang diambil oleh tuan rumah. Kami mendukung sepenuhnya, karena tidak ada yang salah dengan sikap tersebut." 

Tantowi menuturkan telah melayangkan protes keras kepada Young dan mendesak dia untuk membuat klarifikasi dikarenakan apa yang dia tulis tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya. "Tulisan bahwa Presiden Joko Widodo menolak untuk berkomunikasi dengan media adalah pendapat pribadi Audrey Young, yang tidak didukung oleh bukti dan fakta," kata Tantowi.

"Joko Widodo adalah orang biasa pertama yang menjadi Presiden Indonesia. Sebagai Presiden dari negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Joko Widodo menjunjung tinggi kebebasan berekspresi dan independensi pers sebagai salah satu pilar demokrasi," kata Tantowi menambahkan.

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Selandia Baru, setelah Presiden Abdurrahman Wahid 13 tahun lalu, diklaim Tantowi merupakan kunjungan yang sukses dan produktif. Kunjungan kenegaraan yang dilaksanakan pada 18-19 Maret merupakan hasil persiapan matang tim kedua negara jauh-jauh hari sebelumnya. "Kami sangat puas dengan pelayanan, penyambutan dan perhatian yang diberikan Pemerintah Selandia Baru," kata Tantowi.

Kunjungan tersebut dilakukan dalam rangka 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Selandia Baru. Menurut Tantowi, selama kurun waktu tersebut banyak hal sudah dicapai kedua negara. Mulai dari perdagangan, investasi, pendidikan, pertanian, pariwisata, penanganan bencana, politik, kerja sama pertahanan dan kontraterorisme.

"Kedua negara sepakat untuk meningkatkan derajat hubungan dari strategis menjadi komprehensif. Kedua negara juga berkomitmen untuk meningkatkan perdagangan dari 1,6 miliar dolar New Zealand atau sekitar 16 triliun rupiah menjadi empat miliar dolar New Zealand atau sekitar 40 triliun rupiah sebelum 2024," kata Tantowi.