BREAKINGNEWS.CO.ID- Pidato Presiden Joko Widodo dalam Opening Plenary Pertemuan Tahunan IMF-World Bank 2018, Jumat (12/10/2018), yang mengibaratkan perseteruan negara-negara maju seperti serial Game of Thrones mendapat sambutan super meriah. Idiom kekinian serta akrab dengan kaum millennial disampaikan Jokowi untuk menggambarkan kondisi pertarungan ekonomi dunia yang sedang terjadi saat ini.

Jokowi menggambarkan perang dagang yang sedang berlangsung antara Amerika Serikat dan Cina akan membunuh semua pihak. “Hubungan antar negara-negara ekonomi maju… semakin lama semakin terlihat seperti “Game of Thrones”…

“…Perang Dagang semakin marak… dan inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang. Negara-negara yang tengah tumbuh …. juga sedang mengalami tekanan pasar yang besar..Dengan banyaknya masalah perekonomian dunia, sudah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa: Winter is Coming"

Dalam serial“Game of Thrones”,sejumlah Great Houses, Great Families... bertarung hebat antara satu sama lain, untuk mengambil alih kendali… “the Iron Throne” . “Mother of Dragons” menggambarkan siklus kehidupan. Perebutan kekuasaan antar para “Great Houses” itu bagaikan sebuah roda besar yang berputar. Seiring perputaran roda…, satu Great House tengah Berjaya, sementara House yang lain menghadapi kesulitan… dan setelahnya,… House yang lain Berjaya, dengan menjatuhkan House yang lain

Namun … yang mereka lupa … tatkala para Great Houses sibuk bertarung satu sama lain, mereka tidak sadar adanya ancaman besar dari Utara. Seorang evil winter, yang ingin merusak dan menyelimuti seluruh dunia… dengan es dan kehancuran.

Dengan adanya kekhawatiran ancaman Evil Winter tersebut, … akhirnya mereka sadar: tidak penting siapa yang duduki di “Iron Throne”. yang penting adalah kekuatan Bersama untuk mengalahkan Evil Winter agar bencana global tidak terjadi. Agar dunia tidak berubah menjadi tanah tandus yang porak poranda yang menyengsarakan kita semua.

Untuk itu, …. kita harus bertanya: apakah sekarang ini merupakaan saat yang tepat untuk rivalitas dan kompetisi? Ataukah …saat ini merupakan waktu yang tepat untu kerjasama dan kolaborasi?? Apakah kita telah terlalu sibuk untuk bersaing dan menyerang satu sama lain… sehingga kita gagal menyadari… adanya ancaman besar yang membayangi kita semua? …Apakah kita gagal menyadari … adanya ancaman besar yang dihadapi oleh negara kaya maupun miskin? …. Oleh negara besar ataupun negara kecil?

Saya ingin menegaskan bahwa … saat ini kita masuk pada “Season Terakhir” dari pertarungan ekspansi ekonomi global yang penuh rivalitas dan persaingan.Bisa jadi situasinya lebih genting dibanding krisis finansial global sepuluh tahun yang lalu …

Kami bergantung pada Saudara-saudara semua… para pembuat kebijakan moneter dan fiskal dunia… untuk menjaga komitmen kerjasama global…

Saya sangat berharap… Saudara-saudara akan berkontribusi… dalam mendorong para pemimpin dunia untuk menyikapi keadaan ini secara tepat… Diperlukan kebijakan moneter dan kebijakan fiskal… yang mampu menyangga dampak dari Perang Dagang, …. Disrupsi Teknologi, dan ketidak pastian pasar…

Saya harap Pertemuan Tahunan kali ini berlangsung produktif… Saya harap Anda semua mampu menyerap tenaga dan memetik inspirasi …. indahnya alam Bali dan Indonesia. Untuk menghasilkan kejernihan hati dan pikiran …dalam memperbaiki kondisi finansial global… untuk kebaikan Bersama.

Intimidasi

Maka tak heran, sesaat setelah menyelesaikan pidatonya, Jokowi mendapatkan standing ovation dari para peserta, yang merupakan para pucuk pimpinan, investor dan analis kelas dunia.

Tak kurang dari Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dan Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim merasa "terintimidasi" oleh pidato tersebut. "Presiden Jokowi telah menaikkan standar penyampaian pidato di sini dengan sambutannya itu," ujar Lagarde sambil tertawa kecil saat mengawali pidatonya.

Senada dengan Lagarde, Jim juga memuji cara Jokowi menyampaikan pesannya dalam salah satu pertemuan ekonomi internasional terbesar di dunia itu.  "Rasanya saya tidak ingin berpidato lagi di sini setelah mendengar sambutan Presiden Jokowi," ujarnya. "Tapi saya harus tetap melakukannya."