BREAKINGNEWS.CO.ID - Sikap empati pasti muncul dari orang yang pernah merasakan. Analogi itu tepat untuk menggambarkan betapa tingginya keberpihakan capres Joko Widodo terhadap rakyat miskin. Pengalaman pernah tinggal di bantaran kali, atau diusir karena tak mampu bayar kontrakan menumbuhkan energi dalam diri Jokowi untuk selalu menjadi pembela kaum miskin.

Ada sebuah pengalaman nyata yang dikisahkan seorang kontraktor pengerukan Sungai Ciliwung saat Jokowi memerintah Ibukota di tahun 2012-2014. Ketika blusukan meninjau lokasi pengerukan, sang kontraktor diajak Jokowi ke pemukiman kumuh yang ada di bantaran sungai. Ketika itu Jokowi masuk ke salah satu rumah penduduk karena dipaksa oleh pemilik rumah untuk mampir. Alasannya orang tuanya yang lagi terbaring sakit ingin bersalaman dengan gubernur.

Karena ukuran rumah tersebut sangat kecil, hanya menampung empat orang, maka hanya Jokowi, ajudan, dan kontraktor itu yang masuk ke dalam rumah yang tidak memiliki kursi tamu. Para tamu hanya duduk dilantai beralaskan tikar lusuh, sementara tuan rumah menyuguhkan minuman.

Namun, ketika sang kontraktor hendak meneguk air, tercium bau sabun pada gelas sehingga ia membatalkan niat karena tahu gelas tersebut itu tidak bersih. Ajudan pun juga tak minum dari gelas yang terkesan masih kotor itu. "Namun, Jokowi dengan tersenyum sambil berbicara dengan pemilik rumah, malah menghabiskan minuman dari gelas itu. Tidak ada kesan ragu di wajah Jokowi saat meminumnya," ucap kontraktor.

Usai pertemuan sekitar 15 menit itu, dan saat akan kembali ke mobil, kontraktor itu bertanya, "apakah bapak merasakan aroma sabun pada gelas yang tadi diminum." Dengan tersenyum Jokowi, menjawab, "air dengan gelas beraroma sabun adalah inspirasi saya untuk berbuat demi rakyat karena cinta. Pemimpin tidak akan merasakan ini kalau dirinya hanya berada di kantor atau di istana." Jokowi melanjutkan bahwa ketika dirinya merasakan aroma sabun pada gelas itu, hatinya menjerit karena inilah kehidupan yang dirasakan sebagian besar rakyatnya setiap hari.

Berasal dan lahir dari keluarga miskin, Jokowi pasti terbiasa merasakan dan melihat kegetiran yang ada. Siapapun yang kini hidup lebih lapang, namun pernah merasakan kegetiran hidup dalam kemiskinan, pasti punya perasaan yang sama.

Karena itu, tak mudah bagi kita untuk menanamkan empati terhadap lingkungan yang terbatas akan akses sosial jika tak pernah mengalaminya. Jika Anda tidak pernah merasakan getirnya hidup di pinggir kali. Tidak pernah merasakan getir diusir karena tidak mampu bayar uang kontrakan, atau tak punya uang untuk bayar anak sekolah, maka Anda tidak akan punya energi empati dalam diri sendiri.

"Saya yakin, sulit bagi orang seperti Prabowo yang sejak kecil lahir dari keluarga bangsawan dan menikah dengan keluarga presiden akan merasakan kegetiran itu. Sulit juga bagi Sandiaga yang hidup dimanja oleh keluarga konglomerat untuk merasakan hal yang sama. Mungkin mereka peduli kepada orang miskin. Namun, untuk menjadi petarung bagi kaum miskin sangat sulit. Dalam gen mereka tidak ada memori kegetiran yang bisa menjadi energi untuk berempati," lanjut kontraktor.

Oleh sebab itu, sang kontraktor merasa terpanggil untuk mendukung habis-habisan ketika Jokowi mencalonkan diri lagi sebagai presiden untuk periode 2019-2024 sebagai bentuk tanggung jawab moral agar lahir pemimpin dari kaum bawah yang akrab lahir batin dengan kemiskinan dan siap menjadi pembela kaum papa.

"Negeri kita kaya sumber alam, tetapi miskin pemimpin yang punya empati bagi kaum miskin. Kebanyakan hanya sebatas retorika namun tidak bisa lari dari fakta yang selalu mengejar harta dan lupa kepada rakyat miskin ketika berkuasa," ujarnya. 

"Saya percaya, jika Sang Pencipta memberi rahmat kepada suatu kaum, maka dipilihlah pemimpin yang lahir dari kaum dhuafa dan dia akan selalu dijaga Tuhan agar memberikan keadilan bagi kaum miskin. Saya membela Jokowi untuk kebaikan agar Indonesia bisa maju dan lebih baik," pungkasnya.