BREAKINGNEWS.CO.ID - Pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin menang telak atas lawannya Prabowo Sabuianto-Sandiaga Uno dalam survey yang dirilis Alvara Research Center. CEO Alvara Research Center Hasanuddin Ali mengatakan, survey dilakukan pada periode 8-22 Oktober 2018 terhadap 1.781 responden di 33 provinsi.

Alvara tidak melakukan survei di Sulawesi Tengah karena wilayah tersebut sedang ditimpa bencana. Survei dilakukan dengan wawancara tatap muka menggunakan metode pengambilan sampel secara acak atau multistage random sampling. Margin of error survei 2,37%. "Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 54,1 persen, sedangkan Prabowo-Sandi 33,9 persen," kata Hasanudin, Selasa (6/11/2018).

Sedangkan jumlah pemilih yang belum menentukan pilihan sebesar 12 persen. "Sedangkan bila dilihat dari soliditas pemilih, 55 persen pemilih Jokowi tidak akan mengubah pilihannya. Pemilih Prabowo 57,7 persen tidak akan mengubah pilihannya," ujarnya

Hasanudin mengungkapkan, dari sisi geografis, di hampir semua wilayah Indonesia, kecuali Sumatera yang dikuasai paslon Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. "Pasangan Jokowi-KH Maruf unggul di hampir semua wilayah, kecuali Sumatera," katanya.

Paslon Jokowi-Ma'ruf unggul di Jawa 58,1 persen, sedangan Prabowo-Sandiaga 29,2 persen. Untuk Sumatera paslon Prabowo-Sandiaga unggul 44,6 persen dan Jokowi-Ma'ruf 40 persen.

Prabowo Manfaatkan Swing Voters

Menanggapi hasil itu, Timses Prabowo menyebut masih ada waktu 5 bulan untuk kampanye sebelum pemungutan suara. "Artinya kita masih punya waktu 5 bulan lebih begitu untuk mendesain kampanye. Kemudian terus memanfaatkan suara swing voters dan bahkan mungkin menarik para pendukung Pak Jokowi-Ma'ruf Amin. Jadi ya terima kasih dengan survei-survei itu mau berapa pun hasil yang mereka buat," kata Koordinator Jubir Praboowo-Sandi, Dahnil Anzar Simanjuntak.

Dahnil mengaku bersyukur ada lembaga survei yang memberikan data kepada tim Prabowo secara gratis. Dahnil juga mengaku tak khawatir dengan survei mengunggulkan Jokowi. "Nggak, kami nggak khawatir sama sekali. Jadi memang kan kami nggak punya cukup dana untuk bayar lembaga-lembaga survei, jadi justru kami berterima kasih ada data-data yang gratis seperti ini," tuturnya.