BREAKINGNEWS.CO.ID - Presiden Joko Widodo telah meneken pembatalan remisi untuk I Nyoman Susrama,  terpidana otak pembunuhan Anak Agung Gede Narendra Prabangsa, wartawan Jawa Pos Radar Bali.

Hal itu disampaikan Jokowi saat menjawab pertanyaan seseorang acara peringatan Hari Pers Nasional 2019 di Surabaya. Seseorang bertanya, "Bapak bagaimana soal pencabutan remisi terhadap pembunuh Prabangsa?". 

Dengan spontan Jokowi menjawab, "Sudah, sudah saya tanda tangani."

Terpisah, Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly yang dihubugi wartawan meyakini soal pencabutan remisi terhadap pembunuh Prabangsa sudah ditandatangani. "Saya kira sudah ditandatangani Presiden. Konfirmasi ke Menteri Sekretaris Negara ya," kata Yasona saat dikonfirmasi, Sabtu (9/2/2019). 

Yasonna mengatakan, draft pembatalan Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2018 tentang Nyoman Susrama, terpidana kasus pembunuhan jurnalis Radar Bali, A.A. Narendra Prabangsa, sudah berada di Istana Negara. 

"Artinya, tinggal menunggu keputusan Presiden kapan akan diumumkan. Mungkin di Hari Pers Nasional (9 Februari 2019)," kata Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM Sri Puguh Budi Utami di kantornya, Jakarta Pusat pada Jumat, 8 Februari 2019 sebelumnya.

Dalam hal ini, Sri Puguh menyampaikan, Kementerian Hukum dan HAM telah mengkaji ulang pemberian remisi tersebut. Pengkajian remisi dilakukan bersama dengan sejumlah pakar dan akademisi. Sri Puguh menjelaskan, kajian ulang pemberian remisi itu dilakukan karena banyaknya penolakan yang muncul dari berbagai lapisan masyarakat. 

"Selain itu (juga) berlandaskan kepada asas-asas umum pemerintahan yang baik. Manfaat kepentingan umum yang juga menjadi dasar," ujarnya.

Dalam kasus ini, Nyoman Susrama dihukum seumur hidup. Hakim meyakini kasus pembunuhab tersebut dilatarbelakangi pemberitaan di Harian Radar Bali yang gecar menyoroti dugaan korupsi proyek-proyek di Dinas Pendidikan Bangli.

Dari saksi dan barang bukti yang dipersidangkan menunjukan Susrama berada di balik kasus itu. Susrama memerintahkan anak buahnya menjemput Prabangsa di rumah orang tua Prabangsa di Taman Bali, Bangli, pada 11 Februari 2009. 

Prabangsa kemudian dibawa ke halaman belakang rumah Susrama di Banjar Petak, Bebalang, Bangli. Di sana, Prabangsa dipukuli anak buah Susrama hingga sekarat. Lalu dibawa ke Pantai Goa Lawah, tepatnya di Dusun Blatung, Desa Pesinggahan, Kabupaten Klungkung. Prabangsa lalu dibawa naik perahu dan dibuang ke laut. Mayatnya ditemukan mengapung oleh awak kapal yang lewat di Teluk Bungsil, Bali, lima hari kemudian.

Belakangan, lewat Keputusan Presiden Nomor 29/2018-2019, Susrama bersama 114 terpidana lain mendapat remisi perubahan hukuman dari penjara seumur hidup menjadi pidana penjara sementara. Susrama dinilai berkelakuan baik.

Remisi tersebut lalu dikecam kalangan jurnalis dan pegiat HAM. Ketua Umum AJI Indonesia, Abdul Manan, membuat petisi online pencabutan remisi terhadap Nyoman Susrama. Petisi ini dibuat pada 27 Januari lalu. Petisi penolakan di laman Change.org itu telah mencapai lebih dari 44 ribu tanda tangan dukungan. AJI Indonesia pun telah menyerahkan petisi online tersebut kepada Ditjen PAS, hari ini, 8 Februari 2019.