JAKARTA - Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebutkan penyerangan terhadap sejumlah pemuka agama di daerah belakangan ini dikerjakan orang yang sakit. JK memastikan penyerangan itu tidak dilakukan untuk kepentingan poilitik.

"Ini lebih kepada orang yang sakit. Yang satu lain lagi jiwanya bagaimana. Kalau yang bunuh ustaz di daerah itu kan sakit jiwa. Yang di  Sleman kita tidak tahu kenapa itu jalan sendiri kan, ngamuk-ngamuk itu kan," kata JK di kantornya di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (13/2/2018).

Ia menyerahkan kasus itu kepada kepolisian. Tetapi menurut dia tak ada yang ingin berpolitik dengan membuat perpecahan. "Saya kira tidak (terkait polotik). Siapa sih yang ingin berpolitik dengan membuat perpecahan? Biar polisi meneliti, menyelidiki apa yang terjadi di situ," ujarnya.

JK meminta seluruh pihak terutama pemuka agama untuk lebih waspada. Pemuka agama juga diminta untuk membuat kondisi yang sejuk khususnya ketika memberi khotbah. "Harus lebih adem berbicara memberikan dakwahnya atau khotbahnya," ucapnya.

Tetapi polisi nantinya mesti memaparkan bagaimana peristiwa itu dapat dilakukan orang yang sakit. "Bagaimana caranya, seperti itu. Atau ada orang yang jiwanya sudah kemasukan seperti itu. Saya cuma membaca yang di Yogya itu mereka mau berkeliling-keliling, itu mungkin ada keresahan dalam jiwanya. Ada ajaran yang masuk dalam pikirannya kita tidak tahu. Biar polisi nanti menjelaskan," imbuhnya.

JK melihat, apabila ada politisi yang memanfaatkan isu agama dalam berpolitik sulit untuk dihindari. Dia mengatakan banyak politisi yang memakai isu agama dalam berpolitik. "Seperti saya katakan, kalau hanya isu saja susah dihindari. Jangankan itu, Trump menang pun mainkan isu agama," ungkapnya.

"Artinya memang dipakai orang kadang-kadang, selama itu tidak mempertentangkan silakan. Itu tidak bisa dihindari, selama tidak bisa dipertentangkan," lanjutnya.

Dia mengharapkan politisi yang memainkan isu agama tidak membuat perpecahan yang membahayakan. Tetapi menurut JK, belum ada perseteruan besar karena politik yang memakai isu agama. "Kita belajar pengalaman selama ini tidak menimbulkan konflik besar. Kecuali kemarin di Poso, Ambon, setelah itu kan tidak," tuturnya.