JAKARTA-Supir angkutan kota (angkot) M03, M08 dan M10 menyatakan sikap untuk menolak program one karcis one trip (OK Otrip) yang akan berlangsung pada awal Maret mendatang. OK Otrip menargetkan 170 kilometer per hari dan supir menyatakan tidak sanggup.

Menurut Dewan Pembina Unit Organda Angkutan Lingkungan DKI Petrus Tukimin, para supir hanya bisa menyanggupi 100 kilometer per hari. Sementara berdasarkan kajian Pemprov DKI 170 kilometer dan Transjakarta 175 kilometer.

"Kalau menurut mereka Transjakarta 175 tapi kan kalau menurut supir 100 kilometer, tapi kan mereka banyak ngetem banyak istirahat," kata Petrus di Kantor Suku Dinas Perhubungan DKI Jakarta Jalan Taman Jatibaru, Jakarta, Kamis (22/2/2018).

Petrus mengungkapkan, meskipun target sudah diturunkan dari 190 kilometer menjadi 170 kilometer, berdasarkan informasi para supir jika tetap ikuti program OK Otrip maka target 170 kilometer tidak bisa tercapai karena program itu dinilai dipaksakan.

"Tapi itu juga mereka masih tidak tercapai kan kalau enggak kecapai hasilnya enggak akan maksimal," ungkap dia.

Meskipun para supir angkot pesimis dengan capaian yang ditargetkan Pemprov, Petrus tetap coba meyakinkan untuk ikut uji coba OK Otrip rute Tanah Abang. "Saya bilang ikut aja dulu uji coba. Kalau sudah ikut uji coba baru kita tahu berapa sih yang benernya," ujar Petrus.

Siang tadi puluhan supir angkot jurusan Tanah Abang melakukan aksi unjuk rasa menolak gabung program OK Otrip lantaran persyaratannya yang memberatkan yakni 170 kilometer tiap harinya. Menurut supir angkot M08 Leo Hariadi, jika OK Otrip tetap dilaksanakan nantinya para supir terbebani dan terkesan program tersebut dipaksakan.

"Kebanyakan enggak setuju kalau OK Otrip jalan karena rugi, kalau sekarang semua ketutup (setoran dan uang bensin), kalau OK Otrip enggak mungkin nyampe kalaupun nyampe pasti kita terforsir," ujar Leo di Jalan Jatibaru Bengkel, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (22/2/2018).