JAKARTA - Tawaran dari proposal Jepang untuk proyek kereta berkecepatan tinggi antara Kuala Lumpur dan Singapura dengan menawarkan teknologi pengenalan wajah yang canggih.

Duta Besar (Dubes) Jepang untuk Malaysia Makio Miyagawa menjelaskan, teknologi yang ditawarkan perusahaan Jepang itu akan membantu memudahkan proses imigrasi saat perjalanan komuter antara Malaysia dan Singapura.

“Jika para komuter harus mengambil waktu lama di imigrasi, maka kereta cepat tidak akan efisien dan bermanfaat untuk para komuter,” ujar Makio Miyagawa pada kantor berita Bernama.

Miyagawa menjelaskan, salah satu kekuatan Jepang ialah tawaran untuk proyek itu juga memiliki paket keuangan yang sangat fleksibel yang termasuk penerbitan obligasi syariah dan seluruh biaya akan mencakup jenis layanan kereta yang bagus dan sistem imigrasi yang dibutuhkan.

Dubes Jepang menambahkan, kereta peluru Jepang atau shinkansen yang memiliki catatan nol kecelakaan sejak pengoperasian pada 1964 menjadi faktor kuat lain dalam tawaran proyek tersebut. Proyek itu diperkirakan menelan biaya antara 50 miliar ringgit (sekitar Rp178,2 Miliar) dan 60 miliar ringgit (sekitar Rp213,8 Miliar).

“Negara kami yang pertama di dunia yang menciptakan teknologi kereta berkecepatan tinggi ini, dan sekarang ini dapat bergerak antara 250 km per jam dan 320 km per jam. Sistem keamanan shinkansen sendiri menjamin kereta tidak akan bertabrakan dengan kereta lain yang menggunakan rel yang sama,” ujar dia.

Miyagawa menjelaskan, bobot yang lebih ringan membuat kebutuhan listrik pun lebih sedikit untuk menjalankan kereta cepat (HSR) tersebut. Dengan demikian usia pemakaian kereta juga lebih lama karena gesekan yang lebih sedikit antara kereta dan rel.

Dia menambahkan, Jepang juga akan senang memindahkan teknologi shinkansen ke Malaysia dan Singapura untuk memastikan para pakar dari kedua negara dapat mengoperasikan sistem itu sendiri.