BREAKINGNEWS.CO.ID -Sukses pelari jarak pendek Lalu Muhammad Zohri terhitung fenomemal. Karena mencuat sekaligus merebut gelar juara  dunia cabang atletik, dari nomor sprint yang selama ini secara tradisional menjadi kekuasan pelari  Afro Amerika, atau atlet dengan kulit gelap.

Pencapain ini terhitung langka, setelah prestasi mengkilap terakhir berhasil ditorehkan sprinter Purnomo M Yudhi di Olimpiade 1984 Los Angeles Amerika. Dimana saat itu di babak 8 besar atau semi final, Purnomo menjadi satu-satunya pelari non kulit hitam yang menyeruak diantara dominasi yang terjadi.

Saat ini, Zohri yang asal NTB tentu sudah ditunggu kedatangannya, dan dielu-elukan sebagai pahlawan baru, sekaligus role model yang layak ditempatkan sebagai idola baru.

Hanya saja, langkah pemuda asal Lombok ini masih sangat panjang. Di usianya yang baru genap 20 tahun, masih banyak tugas yang harus dijalankan, karena dari PB PASI sendiri, tempat ia bernaung, diharapkan prestasi mengkilapnya tak berhenti sampai di situ saja, masih ada sejumlah pembuktian yang harus dia lalui, mulai dari Asian Games, Kejuaraan Dunia Atletik senior, hingga level puncak medali emas olimpiade. Sekaligus menjadi manusia tercepat di dunia.

Jangan sampai kejadian serupa dan kerap terjadi pada masa-masa lalu, dimana atlet muda Indonesia mampu berprestasi di tingkat dunia, dengan merebut berbagai gelar level junior, gagal berlanjut saat senior.

Berikut beberapa atlet yang berprestasi saat junior, justru meredup kala dewasa.

Angelique Widjaja

Petenis putri ini tampil sebagai juara Wimbledon Junior 2001,  mengalahkan Dinara Safina. Namun  dalam perjalananya, Angie-demikian ia disapa, gagal unjuk sinar di level turnamen senior. Meski dalam catatan prestasinya, putri Bandung itu pernah menjuarai beberapa seri WTA Tur, namun capaiannya itu tak seperti Dinara yang pernah menjuarai Grand Slam Wimbledon tunggal putri senior, beberapa tahun berikutnya. Sementara Dinara sempat berkibar di ajang tertinggi tenis pro dunia, maka Angie harus berakhir dengan menjadi guru kursus tenis, yang sebagiannya adalah anak-anak berkebutuhan khusus. Tak ada yang salah dengan pilihan tersebut, karena tenis tetap menjadi pilihannya kendati tak lagi harus berada langsung di lapangan.

Tami Grande

Meski masih boleh berharap, namun petenis blasteran Bali Australia ini kerap terhambat oleh factor non teknis. Padahal secara prestasi dirinya layak masuk jajaran elit dunia, karena pernah menempati peringkat 42 dunia ranking tenis putri junior dunia. Selain pernah menyamai rekor seniornya Angelique Widjaja, merebut gelar tunggal putri junior Wimbledon 2014, Tami juga berhasil lolos dan berhak tampil di Australia Terbuka tahun 2015.

Kita lihat saja, apakah Tami mampu memberikan secercah kebanggaan di Asian Games 2018 Jakarta mendatang. Itupun dengan catatan, diajak oleh PB Pelti, pasalnya, sejak beberapa tahun terakhir, terjadi miss komunikasi yang membuat Tami sering tak memperkuat tim merah di sejumlah kejuaraan resmi.

Rorie Hie

Kisah serupa juga terjadi dari lapangan golf melalui pegolf muda berbakat bernama Rorie Hie. Saat masih berkiprah sebagai pegolf junior dan menetap di negeri paman sam Amerika Serikat, sejumlah pretasi berhasil dibukukannya di negara itu.  Salah satu yang paling fenomenal adalah merebut dua gelar juara sekaligus yakni  High School State Championship dan Regional High School Championship.

Dirinya menjadi orang kedua yang mampu membukukan prestasi tersebut sebelum pegolf fenomenal pemenang berbagai gelar turnamen major Tiger Woods.

Namun kini, saat sudah berkiprah di turnamen senior, kecemerlangannya belum terlihat lagi. Meski pernah memperkuat  tim nasional gol Indonesia di berbagai kejuaraan perseorangan dan multi event, namun sayang itu belum juga membuahkan hasil. Sementara di ajang pro yang kini sudah digeluti, Rorie masih berprestasi semenjana. Meskipun itu turnamen di level Asia pro tour.

Sebelum Rorie kejadian serupa juga pernah terjadi dari cabang ini, satu decade lalu, ada juga pegolf junior fenomenal Indonesia bernama Aleksander Sitompul.  Sempat menimba ilmu di Amerika dan mencatat sejumlah capaian menggembirakan kala bermain di level junior, namun semua taka da lagi terlihat kala dirinya masuk level senior dan terjun ke ajang golf pro.

Irwin Irnandi

Hal serupa juga pernah muncul dari arena olahraga otak,  alias catur. Pada tahun 1989, Indonesia sukses memunculkan Irwin Irnandi, seorang remaja asal Bangkalan Madura yang secara mengejutkan, keluar sebagai juara dunia dalam kejuaraan dunia catur kelompok umur tahun World Youth Chess Championship 1989 di Puerto Rico.

Namun capaian tersebut tak berlanjut, karena pembinaan yang diperoleh tidak konsisten, Irwin akhirnya mundur dan focus sekolah dan lulus di salah satu fakultas di Institut Tekhnologi  Bandung.

Itu baru sedikit dari deretan nama-nama atlet cemerlang Indonesia namun layu sebelum berkembang saa masuk usia dewasa… Kita belum masuk ke cabang angkat besi yang prestasi atletnya mampu menembus level teratas ajang olimpiade, atau bulu tangkis dan beberapa cabang lainnya.

Apakah kemudian Lalu Muhammad Zohri harus mengalami nasib serupa?.. Cemerlang di usia muda tapi hampa prestasi di saat dewasa… Biar pemerintah dan pemangku olahraga tanah air yang akan menjawab pertanyaan tersebut.