PADANG - Dalam menyambut bulan suci Ramadhan 1439 H kali ini, sejumlah masyarakat Muslim di Indonesia yang dikenal beragam budaya dan beragam keyakinan dalam menentukan awal bulan suci tersebut juga berbeda-beda. Sebagian masyarakat bahkan tak berpatokan dengan hasil penentuan awal puasa oleh Kementerian Agama (Kemenag). Sebagaian masyarakat ada yang lebih dulu melakukan ibadah puasa, sebagian lagi masyarakat juga melakukan awal puasa tersebut setelah sidang isbat penentuan awal Ramadhan oleh Kemenag. Uniknya, mereka mengaku mengambil hisab berdasarkan sistem hisab berdasarkan malam saat Rasulullah SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Seperti halnya di Sumatera Barat, Jamaah tarekat Naqsabandiyah Sumbar sudah mulai melaksanakan puasa bulan Ramadhan 1439 Hijriah pada hari in, Selasa (15/5/2018) dan telah melaksanakan shalat Tarwih pada Senin (14/5/2018) malam. "Kami mengambil berdasarkan sistem hisab berdasarkan malam saat Rasulullah SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah," kata pimpinan Tarekat Naqsabandiyah Sumbar Syafri Malin Mudo.

Menurutnya, perhitungan tersebut dihitung Rasulullah hijrah saat Rabu petang, dan malam Kamis. Artinya satu hari puasa dihitung berdasarkan malam nabi hijrah dan perhitungannya setiap tahun Hijriah puasa digenapkan hingga 30 hari. Untuk itu, berdasarkan hitungan dengan menggunakan metode tersebut jamaah tarekat Naqsabandiyah berpuasa selama setahun dengan perhitungan 30 hari puasa Ramadhan dan 6 hari puasa syawal. Dengan demikian Idul Fitri akan jatuh pada 1 Syawal tepatnya 13 Juni 2018.

Syafri mengatakan jika untuk pelaksanaan shalat Tarwih, Shubuh dan Ied Berjamaah akan dipusatkan di Mushalla Baitul Makmur, Pasar Baru Kecamatan Pauh Padang. Bahkan dirinya pun menegaskan tarekat Naqsabandiyah tidak memiliki perbedaan dengan tarekat mana pun dan semua bebas ikut shalat Tarwih atau Shubuh berjamaah. Sebab, secara ajaran tidak ada perbedaan, seperti shalat Tarwih dengan 23 rakaat dan 12 kali salam, serta Shalat Ied dengan 12 kali takbir. Menurutnya 12 kali takbir itu bagian dari 12 bulan dalam satu tahun Hijriah.

Adapun terkait dengan kemungkinan adanya perbedaan pelakasanaan puasa dengan pemerintah dan organisasi Islam lainnya, Syafri menghormatinya. Menurutnya, hal tersebut merupakan sebagai kekayaan pemikiran dan tetap mengajak untuk melaksanakan puasa dengan khusyuk dan sungguh-sungguh.