BREAKINGNEWS.CO.ID-Operasional musim haji 2018 memang telah resmi berakhir, seiring dengan selesainya proses kepulangan jamaah haji Indonesia dari Tanah Suci. Kendati demikian, masih ada sekitar 50 jamaah haji Indonesia yang tertinggal di Arab Saudi, yakni mereka yang sakit dan tengah dirawat di beberapa rumah sakit di Mekah dan Madinah. 

Dari keterangan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan RI, Untung Suseno Sutarjo,  jamaah haji sakit di Arab Saudi nantinya akan dikonsentrasikan di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) dengan koordinasi Konsulat Jenderal RI.

"Itu menjadi perhatian dari Konsul Jenderal. Namun dari Kemenkes RI mengirim enam tenaga medis yaitu tiga dokter tiga perawat akan turut memantau" kata Untung, sebagaimana dikutip dari situs resmi Kementerian Kesehatan, Kamis (27/9/2018) pagi WIB.

Masa operasional Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) di Arab Saudi untuk tahun ini sudah berhenti beroperasi sejak Rabu waktu setempat. Kendati begitu, sudah ada dokter yang tetap memantau perkembangan kesehatan jamaah haji Indonesia.

Kepala Pusat Kesehatan Haji Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Dr dr Eka Jusuf Singka sedang membantu seoarang jamaah haji yang sakit

Lebih rinci, pelayananan KKHI Mekah sudah selesai pada 16 September seiring dengan habisnya jamaah haji di kota tersebut dengan sebagian telah pulang ke Tanah Air sementara lainnya sudah berada di Madinah. Sementara KKHI Madinah beroperasi hingga 26 September, seiring dengan fase terakhir pemulangan jamaah haji.

Dia mengatakan, dokter dari Kemenkes akan terus memantau pasien, melihat kemajuan dari pengobatan dan berkomunikasi dengan dokter yang merawat pasien di RSAS sehingga pengobatan dapat diberikan dengan baik.

"Semua pasien dirawat dengan baik. Mohon doanya agar Allah memberikan kesembuhan kepada jamaah yang masih ada di sini," kata Untung.

Kendati demikian, dia mengatakan,terdapat kendala dalam pelayanan kesehatan untuk jamaah haji "tertinggal" tersebut yaitu soal bahasa. Dalam menangani itu KKHI menyediakan penerjemah yang datang setiap hari ke RSAS.
 
Penerjemah, kata dia, bertugas untuk menghubungkan komunikasi antara pasien, tenaga medis Indonesia dan tenaga medis Saudi. "Memang ada kesulitan bahasa. Oleh karena itu, dari KKHI menyediakan penerjemah yang datang setiap hari untuk memberikan informasi kepada dokter dan perawat sehingga pasien dapat ditangani dengan baik," katanya.