BREAKINGNEWS.CO.ID – Sebagai respon terhadap penembakan di dua masjid Kota Christchurch pada pekan lalu, Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, melarang penjualan senapan serbu dan semi-otomatis. Insiden tersebut menewaskan sebanyak 50 orang termasuk seorang warga negara Indonesia bernama Lilik Abdul Hamid.

"Hari ini saya mengumumkan bahwa Selandia Baru akan melarang semua senjata semi-otomatis gaya militer. Kami juga melarang semua senapan serbu," ucap Ardern di Ibu Kota Wellington pada Kamis (21/3/2019). "Ini berarti bahwa tidak seorang pun akan dapat membeli senjata-senjata ini tanpa izin dari polisi. Saya dapat meyakinkan orang-orang bahwa tidak ada gunanya mengajukan izin (pembelian) itu," ujar Ardern.

Tidak hanya senapan serbu dan semi-otomatis, Ardern mengatakan pemerintah juga melarang penjualan magasin berkapasitas tinggi dan popor senapan khusus. "Singkatnya, setiap senjata semi-otomatis seperti yang digunakan dalam serangan teroris pada Jumat (15/3) pekan lalu akan dilarang di negara ini," papar perempuan berusia 38 tahun itu.

Ardern menuturkan bahwa Selandia Baru juga akan menarik senjata-senjata yang selama ini sudah dibeli warganya. Pemerintah, paparnya, akan membeli kembali senjata-senjata tersebut dengan harga antara 100 juta dolar Selandia Baru atau sekitar 979,1 miliar rupiah hingga 200 juta dolar Selandia Baru atau sekitar 1,9 triliun rupiah. "Bagi para pemilik senjata-senjata yang telah pemerintah larang, saya mengakui bahwa banyak dari Anda akan patuhi aturan hukum. Sebagai pengakuan atas hal itu, kami akan memberikan insentif kepada mereka yang mau mengembalikan (senjata). Kami akan menggunakan skema buyback," tuturnya.

Lebih lanjut, Ardern memaparkan siapa pun yang menyimpan senjata ke depannya akan menghadapi denda hingga 4.000 dolar Selandia Baru atau sekitar 39,1 juta rupiah dan terancam tiga tahun penjara. "Sebagian besar warga Selandia Baru mendukung perubahan ini. Saya merasa yakin akan hal itu," ucap perempuan termuda sebagai pemimpin negara itu seperti dikutip AFP.

Brenton Tarrant, warga Australia yang mengaku dirinya sebagai penganut pemikiran supremasi kulit putih, menyiarkan aksinya di Masjid Al Noor dan Masjid Linwood secara langsung melalui akun Facebook-nya. Insiden tersebut terjadi ketika umat Islam setempat hendak melaksanakan salat Jumat.

Tidak lama setelah teror itu terjadi, Ardern, yang merupakan pemimpin perempuan termuda di dunia, langsung menyatakan sikap dan simpatinya terhadap korban peristiwa itu. Dia juga dengan cepat dan tegas menganggap peristiwa itu sebagai aksi terorisme dan bersumpah akan merevisi undang-undang kepemilikan senjata.

Satu hari setelah teror terjadi, Ardern bahkan menyambangi keluarga korban penembakan dengan mengenakan hijab. Perempuan berusia 38 tahun itu sempat memeluk dan berbicara dengan para keluarga korban. Sejak saat itu, nama Ardern terus menarik perhatian publik dikarenakan dianggap berhasil menangani serangan teror yang belum pernah terjadi di Selandia Baru itu secara tepat.