BREAKINGNEWS.CO.ID - Satu hari sebelum para pemimpin Eropa menggelar pertemuan di Brussels terkait dengan isu imigran, Italia menyebut bahwa Prancis arogan dan bisa menjadi musuh utama dalam masalah yang memecah-belah tersebut.

Menanggapi komentar dari Presiden Prancis, Emmanuel Macron yang menyebut aliran imigran ke Eropa telah berkurang dalam beberapa tahun terakhir, Wakil Perdana Menteri Italia, Luigi di Maio menyebut pernyataan itu menunjukkan bahwa Macron telah kehilangan sentuhan.

"Italia memang menghadapi darurat imigrasi dan hal itu salah satunya akibat Prancis yang terus mengusir orang-orang di perbatasan. Macron bisa membuat negaranya jadi musuh nomor satu Italia dalam keadaan darurat ini," kata Di Maio dalam laman Facebook, Minggu (24/6/2018).

Macron menyatakan kerja sama Eropa berhasil memangkas aliran imigran hingga hampir 80 persen dan permasalahan saat ini berasal dari pergerakan "sekunder" para imigran ke Eropa. "Kenyataannya adalah Eropa tidak mengalami krisis imigran di skala yang sama dengan yang dialami pada 2015," kata Macron.

"Negara seperti Italia tidak mengalami tekanan imigrasi seperti tahun lalu. Krisis yang kami alami hari ini di Eropa merupakan krisis politik." Akan tetapi, Menteri Dalam Negeri Italia, Matteo Salvini menuturkan negaranya dihadapkan pada 650 ribu kedatangan lewat jalur laut dalam empat tahun terakhir, 430 ribu permohonan suaka dan menampung 170 ribu "terduga pengungsi" dengan biaya lebih dari 5 miliar euro atau sekitar 82 triliun rpuiah.

"Apabila ini bukan masalah bagi Presiden Macron yang arogan, kami memintanya untuk berhenti menghina dan alih-alih menunjukka kedermawanan konkret dengan membuka banyak pelabuhan Prancis serta membiarkan anak-anak, lelaki serta wanita masuk lewat Ventimiglia," ujarnya dalam pernyataan yang dilansir Reuters. Macron juga menyampaikan Prancis lebih memilih sanksi keuangan dari negara-negara Uni Eropa daripada menolak migran dengan status pengungsi yang sudah terbukti.

"Anda tak bisa mempunyai negara yang mendapat keuntungan besar dari solidaritas Uni Eropa dan secara masif menyuarakan keegoisan nasionalnya dalam persoalan imigran," kata dia, menyindir Hungaria, Polandia dan Republik Ceko yang menentang skema relokasi pencari suaka dari UE.