JAKARTA – Usai Perdana Menteri terpilih Italia gagal mendapatkan dukungan dari partai-partai politik besar, sejumlah sumber mengatakan bahwa negara tersebut kemungkinan akan menggelar pemilihan umum ulang pada Juli 2018 mendatang. Italia sedang berusaha untuk membentuk pemerintahan baru sejak pemilu Maret 2018 lalu berakhir dengan tanpa hasil. Presiden Italia pada akhirnya menunjuk mantan pejabat Dana Moneter Internasional (IMF), Carlo Cottarelli sebagai Perdana Menteri sementara.

Pada awalnya, pemilu akan diselenggarakan antara September hinggal awal 2019. Akan tetapi, sejumlah sumber yang dekat dengan parpol-parpol utama Italia menuturkan, Presiden Sergio Mattarella mungkin akan membubarkan parlemen dalam beberapa hari ke depan serta menggelar pemungutan suara pada 29 Juli mendatang.

Prospek ini muncul langsung setelah Cottarelli bertemu dengan presiden pada Rabu (30/5/2018) dan pergi tanpa berkata apa-apa. Dia sempat diperkirakan akan mengumumkan pemerintahan sementaranya setelah bertemu dengan Mattarelli. Seorang sumber yang dekat dengan presiden mengatakan kepada Reuters bahwa Cottarelli tidak mengungkapkan niat mengundurkan diri dan dia hanya memfinalisasi barisan kabinetnya.

Namun, di sisi lain, partai-partai besar menganggap misi Cottarelli sudah mati dan parlemen harus segera dibubarkan. "Langkah terbaik adalah menggelar pemilu secepatnya, secepat Juli ini," kata Andrea Marcucci, pemimpin senat dari Partai Demokrat yang berhaluan moderat kiri.

Sebelumnya, PM yang lebih dulu dipilih, Giuseppe Conte, mengundurkan diri karena menteri keuangan pilihannya ditolak. Mattarella menyatakan menolak menkeu pilihan Conte, Paulo Savona, dikarenakan dianggap "hampir pasti membawa Italia keluar dari Zona Euro."

Italia mengalami aksi jual pasar paling besar dalam beberapa tahun terakhir, di tengah kekhawatiran investor akan penguatan mandat bagi para politikus anti-mapan dan skeptis-Eropa. Pasar saham di seluruh dunia jatuh dan investor meminta imbal hasil yang tinggi terhadap surat utang Pemerintah Italia.

Bursa saham Italia anjlok lagi tiga persen, mengakumulasi penurunan di pekan ini. Saham perbankan paling banyak terpukul, beberapa di antaranya bahkan anjlok lebih dari lima persen. Selain bursa saham Italia, indeks CAC 40 di Prancis turun 1,29 persen, indeks DAX di Jerman turun 1,53 persen, dan indeks AEX di Belanda turun 0,91 persen.