JAKARTA - Walaupun dorongan seksualnya tinggi, yang diekspresikan dengan seringnya ingin melakukan hubungan seksual, bukan berarti itu hiperseksual.
Dorongan seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu: 1). hormon seks, 2). keadaan kesehatan tubuh, 3). faktor psikis, 4). pengalaman seksual sebelumnya, 5). rangsangan seksual yang diterima. Kalau faktor tersebut mendukung, maka dorongan seksual terasa kuat, dan hubungan seksual sering dilakukan.

Sangat mungkin faktor tersebut sangat mendukung sehingga istri selalu ingin melakukan hubungan seksual. Mungkin hubungan seksual yang dilakukan selalu menyenangkan. Mungkin pula kesehatan tubuhnya dan suasana psikis yang mendukungnya baik. Maka wajar kalau istri ingin mengulang lagi pengalaman yang menyenangkan itu.

Sebaliknya, kalau faktor di atas tidak menyenangkan, wajar juga kalau tidak ingin melakukan hubungan seksual. Bahkan dorongan seksualnya justru lenyap sama sekali, dan tidak ingin melakukan hubungan seksual lagi.

Istilah hiperseksual (hypersex) menunjukkan suatu kelainan seksual berupa dorongan seksual yang sangat tinggi dan menetap. Hiperseksual memiliki beberapa gambaran sebagai berikut:
1). Hubungan seksual merupakan kebutuhan yang tidak pernah terpuaskan, sering dilakukan di antara kesibukan.
2). Semata-mata ingin mengejar orgasme yang sering,
3). Hubungan seksual dilakukan tanpa emosi, hanya untuk kenikmatannya sendiri.

Biasanya seorang hiperseksual melakukan hubungan dengan banyak pasangan, karena pasangan tetapnya tidak selalu bersedia melakukan hubungan dengan frekuensi sangat sering. Pada wanita, hiperseksual disebut nymphomania.

Kalau suami tidak mampu memenuhi permintaan isteri untuk sering melakukan hubungan seksual, bukan berarti isteri hiperseks. Sebaliknya, kalau isteri tidak mampu memenuhi permintaan suami, bukan berarti suami hiperseksual.

Dengan keinginan isteri untuk sering berhubungan seks, sepanjang tidak ada keluhan dari suami, maka tidak ada yang mesti dirisaukan. Tidak ada dampak buruk sepanjang dilakukan sesuai dengan kemauan dan kemampuan bersama. Andaikata suatu saat suami tidak mampu memenuhi keinginan isteri untuk melakukan hubungan seksual yang sering, dan itu sampai mengganggu, tentu harus dicarikan jalan keluar.

Perkembangan lebih lanjut akan menentukan bagaimana kehidupan seksual istri dan bagaimana pula suaminya. Bukan tak mungkin frekuensi berkurang, misalnya karena kesibukan fisik dan mental setelah punya anak.

Perubahan seperti ini sangat mungkin dan wajar terjadi. Perubahan apa pun yang terjadi, hal penting yang harus diperhatikan ialah kehidupan seksual dengan pasangan harus berlangsung harmonis. Kalau tidak, dapat muncul masalah.