JAKARTA - Terkait dengan perlakuan pasukan Israel yang menembaki para demonstran Palestina di Gaza, Qatar mengutuk keras perlakuan tersebut serta mengatakan bahwa hal itu merupakan "pembantaian brutal".

Demonstrasi yang dilakukan ribuan warga Palestina di Gaza pada 14 Mei 2018 berubah menjadi bentrokan berdarah setelah pasukan perbatasan Israel melepas tembakan ke arah massa. Sekitar 59 orang tewas dan ribuan lainnya terluka.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar dalam sebuah pernyataannya mengecam peristiwa itu.

"Qatar mengecam keras atas pembantaian brutal dan pembunuhan sistematis yang dilakukan oleh pasukan pendudukan Israel terhadap warga Palestina yang tidak bersenjata," kata Lolwah Al Khater, Juru Bicara Kemenlu Qatar, Selasa (15/5/2018).

"Kami menyerukan kepada semua kekuatan internasional dan regional yang memiliki suara terhadap Israel untuk segera bertindak dan menghentikan mesin pembunuh brutal itu," tambahnya.

Tindakan pertahanan militer Israel di Jalur Gaza menewaskan setidaknya 55 orang, dalam sebuah bentrokan yang disebut terburuk sejak perang besar pada 2014.

Bentrokan itu merupakan buntut dari aksi protes rakyat Palestina sejak enam minggu terakhir, yang dikoordinasi oleh Hamas dalam tajuk "Great March of Return".

Dilansir BBC, aksi protes turut menyasar perayaan hari jadi Israel ke-70, yang oleh masyarakat Palestina disebut sebagai Nakba atau hari bencana.

Selain itu, aksi protes juga dialamatkan pada rencana pembukaan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Yerusalem.

Israel menyampaikan sekitar 40 ribu warga Palestina sudah ambil bagian dalam "kerusuhan kekerasan" di 13 lokasi di sepanjang pagar keamanan Jalur Gaza.

Demonstran Palestina melemparkan batu dan beragam jenis bom molotov, sementara militer Israel menahannya dengan tembakan gas air mata dan serangan penembak jitu.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, membela militernya, dan mengatakan, "Setiap negara memiliki kewajiban untuk mempertahankan perbatasannya."