Seorang teman bertanya, apa latar belakang pemikiran sekolompok manusia terdidik Indonesia, yang masih melihat PKI sebagai salah satu potensi terbesar yang akan menghancurkan bangsa ini?.

Saya mencoba menjawab berbekal pengalaman berinteraksi beberapa waktu dengan sejumlah kawan dari kelompok itu.
Bagi mereka, PKI adalah aliran dengan potensi cukup besar untuk menghancurkan ummat Islam di tanah air, disamping berbagai kelompok lain yang sama-sama punya niat konspiratif serupa untuk meniadakan Islam dari bumi nusantara.

Pemikiran itu sejatinya merupakan warisan zaman Orba, dimana Soeharto sebagai pimpinan tertinggi, adalah musuh ummat Islam indonesia yang itu ditandai dengan penerapkan azas tunggal dan telah meminggirkan Islam (khususnya sebelum ICMI lahir tahun 1990). Meski ICMI lahir dan ummat Islam mulai mendapat peran, yang namanya hantu PKI tak mengalami pergeseran posisi.

Maka setelah Soehato hancur. mimpi2 buruk yg terpelihara dlm alam bawah sadar mereka adalah, konspirasi PKI (yang bisa menyaru dalam berbagai bentuk) masih laten serta tetap ingin kembali menghancurkan Islam di Indonsia, sebagai upaya balas dendam lantara kegagalan Kudeta 1965.
Bagi kita yang melihat itu hanya sebagai bentuk ketakukan yang tak beralasan dan pobhia, ada sedikit penjelasan lain mengapa pikiran tersebut masih mendominasi mindset kelompok itu.

Dalam Islam ada dua arus utama pergerakan di Indonesia. Satu Islam sebagai gerakan Sosial, Kedua, Islam sebagai kendaraan Politik. Islam Sosial diwakili oleh NU atau Muhammadiyah dan sejumlah organisasi lain, kendati masih beraktifitas, kelompok atau figur2 yang phobia PKI ini mengganggap NU dan Muhammadiyah telah gagal menyelamatkan atau memperbaiki ummat karena mereka telah gagal membawa ajaran agama menjadi warna dan baju dalam masyarakat. NU dan Muhammadiyah adalah organisasi yang saat ini sudah terkooptasi dalam negara. Negara yang tak menempatkan ajaran Islam secara tegas dalam bentuk aturan-aturan,
alias Islam yang banci. Mereka mau penerapan Islam yang tegas dalam tata aturan, terutama aturan yang menyangkut urusan keseharian.

Untuk penerapannya, para penganut Islam politik ini mensyaratkan hadirnya lembaga2 yang akan mengawal tata aturan islam yang tegas, untuk mencapai tujuan terakhir yakni sebuah pemerintahan yg diwarnai ajaran Islam alias NKRI bersyariah.

Di sini, PKI adalah salah satu musuh besar yang sejak awal pasti dicurigai sebagia kelompok yang akan menghalang-halangi. Pada bagian lain, kontaminasi pikiran jadul konspiratif yang tak lagi mendapat bukti nyata dan shahih serta jarang yang di up date dalam pustaka dan bacaan mereka itu, tetap menjadi kewajiban yang harus selalu disampaikan kepada ummat. Dengan bekal perintah Amar Ma'ruf nahi Munkar. Perintah itu kian wajib saat ini lantaran masyarakat terlihat kian carut marut yang itu terjadi, menurut mereka adalah sebagai, akibat pemerintah menolak penerapan aturan Islam versi kelompok ini.

Pada sisi lain, ketidaksediaan meng upgrade informasi membuat terjadi campur aduk antara fakta dan ilusi, sehingga PKI sebagai musuh lama, selalu jadi kambing hitam favorit, untuk dijadikan sasaran tembak antara sementara.

Lalu, Sampai kapan itu akan berjalan?. Sampai pemikiran konspiratif tak berdasar itu hapus dari ingatan......

Sedangkan menurut teman yang lain, itu akan berlangsung terus sampai Pilpres 2019 selesai dan calon bukan dari petahana sekarang yang duduk di istana sana. Sebab, dalam perkembangan terakhir, pikiran konspiratif yang kerap dihembuskan itu, berasal dari kelompok yang gagal pada pada kontestasi pilpres 2014 lalu.
Kok bisa demikian?, ya pasti lah, karena isu PKI selain isu Cina masih jadi asupan maknyos untuk menggoyang keyakinan atas hasil kerja yang sudah dibuat dalam periode ini... Cuma dua itu.....