BREAKINGNEWS.CO.ID -Indonesia Police Watch (IPW) mendukung penuh rencana Polri yang akan menerapkan sistem Elektronik Tilang (E-Tilang) di sejumlah jalan protokol Jakarta. Dibanding Jakarta, kota Bandung dan Surabaya lebih siap menerapkan sistem E-Tilang.

"E-Tilang perlu diterapkan di sejumlah kota besar, untuk kemudian diterapkan secara luas di Indonesia," 
Kata Ketua Presidium IPW Neta S Pane pada rilisnya kepada Breakingnews.co.id, Minggu (16/9/2019).

Neta menyebut kota Bandung dan Surabaya sudah siap dengan peralatan dan alat pemantau lalulintasnya yang sudah sangat memadai. Sementara kota kota lain, seperti Jakarta perlu penambahan untuk melengkapi infrastruktur pendukung E-Tilang yang ada. "Peralatannya sebenarnya sederhana, yakni terdiri dari CCTV, server dan monitor pemantau di Ditlantas Polda dan kemudian petugas yang mengeluarkan surat tilang untuk dikirimkan ke alamat atau WattsApp atau SMS pengandara yang melanggar," katanya.

Ketua Indonesia Police Watch Neta S.Pane

Program E-Tilang menurutnga memang harus sudah dilakukan Polri karena banyak hal positif yang bisa diraih Polri. Yang utama, Polri akan membiasakan diri dengan sistem IT. "Sebab di era polisi modern rasio yang digunakan polri selama ini sudah ketinggalan zaman dan tidak rasional lagi," jelasnya. 

Neta mengatakan, mengejar rasio dengan penambahan jumlah anggota kepolisian untuk mengimbangi jumlah penduduk sudah tidak masuk akal dan tidak akan ada ujungnya. 

Kekurangan SDM dalam sistem rasio Polri sudah saatnya ditutupi dengan teknologi, yakni IT. E-Tilang bagian dari perkembangan sistem IT harus dimanfaatkan menumbuhkembangkan budaya IT di Polri. 

Dengan diterapkannya IT di berbagai dinamika kepolisian, misalnya dalam sistem E-Tilang, Neta berharap budaya pungli yang selama ini menggerogoti citra kepolisian, bisa dikikis. Pasalnya, urusan tilang tidak lagi bersentuhan dengn manusia, tapi lewat IT dan pembayaran dendanya bisa lewat ATM. 

Meski banyak manfaat, Neta juga mengaku perlu dilakukan kesiapan dalam membangun budaya IT di Polri, terutama untuk menerapkan E-Tilang. Karena akan banyak kendala yang akan dihadapi. Pertama, mentalitas aparatur kepolisian dalam merawat inprastuktur E-Tilang, patut dipertanyakan, karena selama ini yamv namanya perawatan, biasanya tidak konsisten dilakukan.

Kedua, soal pengawasan terhadap pengemudi yang terkena E-Tilang. Ini perlu diperhatikan mengingat masig banyak pemilik kendaraan tangan 
kedua enggan melakukan balik nama. "Padahal agar ETilang berjalan efektif, balik nama dalam jual beli kendaraan menjadi sebuah keharusan," imbuhnya. 

Meskipun masih banyak kendala yang membelenggu, polri dimina harus tetap menerapkan E-Tilang dan konsisten secara simultan mengevaluasinya agar E-Tilang benar binar bisa menumbuhkembangkan budaya IT di polri. "Di banyak negara, kepolisiannya sudah mengandalkan IT dalam mengantisipasi maupun menjaga keamanan masyarakat, termasuk dalam menindak pelanggar lalulintas. Teknologi adalah solusi dalam menutupi rasio polisi dengan masyarakat," ujar Neta.