BREAKINGNEWS.CO.ID - Ketua Indonesia Narcotics Watch (INW) Josmar Naibaho mendesak Komisi Pemilihan Umum (KPU) agar menghadirkan materi soal narkoba di acara debat Capres Cawapres putaran kedua. 

Sama seperti korupsi dan terorisme, narkoba juga masuk kategori extra ordinary crime. Bahkan, Indonesia kini Darurat Narkoba.

Sebagai penyelenggara acara debat Capres Cawapres di Hotel Bidakara pada 17 Januari 2019 lalu, Josmar mengaku kecewa dan menilai KPU tidak peka terhadap nurani anak bangsa. "Jujur saja, saya tadinya berharap banyak kedua paslon melontarkan ide dan gagasan soal narkoba, nyatanya tidak ada. Saya kecewa pada KPU," ucap Josmar Naibaho kepada breakingnews.co.id, Senin (21/1/2019).

Dari materi debat yang ditampilkan, Josmar berpandangan bahwa kedua paslon tidak peka dalam memandang masalah narkoba sebagai hal penting yang menjadi persoalan utama bangsa saat ini. Padahal pemerintah sudah menetapkan bahwa indonesia darurat narkoba. "Semestinya capres ini memiliki visi dan misi bagaimana menyelamatkan anak bangsa dari bahaya narkoba," ujarnya.

Lemahnya visi kedua paslon terhadap masalah narkoba dikhawatirkan membawa efek buruk terhadap upaya pencegahan dan pemberantasan narkoba di kemudian hari. "Perlu disadari bahwa narkoba adalah extra ordinary crime, sama seperti korupsi dan terorisme. Mestinya masalah ini juga jadi perhatian kedua paslon dan KPU," tegasnya.

Seperti diketahui, acara debat kedua paslon Caprea Cawapres ini diadakan oleh KPU di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan pada 17 Januari 2019 dengan mengambil tema energi, pangan, sumber daya alam, lingkungan hidup dan infrastruktur. 

ADA 83 SINDIKAT

Data yang dikumpulkan breakingnews.co.id dari Badan Narkotika Nasional (BNN) melansir saat ini sedikitnya ada 83 sindikat narkoba yang beroperasi mengedarkan narkoba di Indonesia sepanjang 2018. BNN mencatat narkotika dan psikotropika yang berhasil diamankan sebanyak 4,075 ton. Ini meningkat hampir dua kali lipat dibandingkan tahun 2017 yang berhasil menangkap 2,214 ton.

"BNN mengidentifikasi di tahun 2018 ada 83 jaringan sindikat narkoba, sedangkan pada tahun 2017 sebanyak 99 jaringan," kata Kepala BNN Heru Winarko kepada wartawan di kantornya, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (20/12/2018).

Heru menyebut jaringan itu paling banyak berasal dari wilayah utara Indonesia, baik di dalam maupun luar negeri. Dia mengaku tahu persis hal itu karena laboratorium BNN dapat mengidentifikasi asal wilayah narkoba yang diuji.

Heru menyebut pula ada 914 kasus narkoba dengan 1.355 tersangka yang sudah ditangani BNN selama tahun ini. Selain itu, BNN menggarap 53 kasus narkoba berkaitan dengan pencucian uang dengan 70 tersangka dan aset Rp 229 miliar.

Sedangkan untuk daerah rawan penyebaran narkoba, BNN menyebut ada 654 lokasi di seluruh Indonesia. BNN juga sudah melaksanakan program pemberdayaan antinarkoba di 55 lokasi, yakni 36 kawasan perkantoran dan 19 kawasan pedesaan.