BREAKINGNEWS.CO.ID -  Seorang siswa SMA California mengambil pistol semiotomatis kaliber .45 dari ranselnya dan menembaki teman-temannya saat kelas baru dimulai. Akibat insiden pada Kamis (14/11/2019) atau Jumat WIB tersebut, dua orang korban meninggal dunia di lokasi kejadian dan tiga lainnya mengalami luka-luka.

Laman Antaranews.com menulis siswa itu menyisakan peluru terakhir untuk dirinya tepat di hari ulang tahunnya yang ke 16.

Remaja bersenjata itu selamat dari tembakan bunuh diri di bagian kepala dan dalam kondisi parah, menurut petugas penegak hukum. Penyelidik masih mencari apa yang membuat siswa itu mengamuk di Saugus High School di Santa Clarita, sekitar 65 km utara Los Angeles.

Saugus kini menambah daftar sekolah yang dikenang sebagai situs tragedi senjata seperti Sandy Hook Elementary School di Connecticut, Columbine High School di Colorado, dan Marjory Stoneman Douglas High di Florida.

"Bagaimana kita bisa terlepas dari tragedi? Kita harus mengatakan 'Tidak lagi!' Ini adalah peristiwa tragis. Ini terlalu sering terjadi," kata Kapten Robert Lewis dari Santa Clarita Valley, dengan ekspresi emosional saat konferensi pers.

Pelaku masih belum diketahui. Polisi hanya menggambarkannya sebagai orang Asia dan mengatakan ia merupakan pelaku tunggal. Mereka menggeledah rumah keluarganya dan tidak menemukan bahaya lebih lanjut.

 

Seorang siswa berusia 14 tahun dan siswi 16 tahun tewas. Dua siswi lainnya yang berusia 14 dan 15 tahun, serta siswa berusia 14 tahun mengalami luka, menurut Kapten Kent Wegener dari Departemen Polisi Los Angeles saat konferensi pers.

"Sebuah video dengan jelas menunjukkan pelaku mengeluarkan senjata dari ransel miliknya, menembaki dan melukai lima orang dan kemudian menembak dirinya sendiri," kata Wegener.

Peristiwa ini menandai satu lagi penembakkan massal di Amerika Serikat baru-baru ini, mengintensifkan perdebatan soal kontrol senjata dan hak konstitusional bagi warga negara untuk menyimpan dan membawa senjata.

Ini setidaknya menjadi peristiwa senjata api di sekolah ke 85 tahun ini, menurut Everyton, kelompok advokasi UU senjata yang lebih ketat.