PURWAKARTA – Tak gampang untuk Dedi Mulyadi mencapai karir sampai saat ini jadi Bupati Purwakarta. Disela-sela syuting sinetron Tukang Ojek Pengkolan (TOP), pria yang akrab disapa Kang Dedi itu mengungkap cerita perjalanan hidupnya sampai dapat mencapai karir sebagai Bupati Purwakarta.

Menurut Kang Dedi, selepas lulus Sekolah Menengah Atas (SMA) di lokasi Subang, Jawa Barat, ia juga mulai merantau serta meninggalkan kampung halamannya. Maksudnya, tidak lain untuk mengadu nasib di kampung orang. Mengingat, saat itu Kang Dedi lahir dari kelompok kurang dapat.

Dengan berbekal lima helai baju, Dedi remaja juga meninggalkan tanah kelahirannya?. Cuma bermodalkan nekat, karna waktu itu dianya tidak mempunyai cukup bekal duit untuk mengawali berkelana untuk mencari sumber penghidupan yang tambah baik.

” Nekat serta pastinya bekal paling utama yang lain, yaitu restu orang?, ” kata Kang Dedi di lokasi Purwakarta, Jawa Barat, Senin (8/5/2017).

Singkat narasi, daerah yang ditujunya waktu itu yaitu Kabupaten Purwakarta. ?Di kabupaten ini, Dedi pernah kebingungan kerena awalannya tak ada arah maksud. Namun, karna keuletannya, Kang Dedi memulai peruntungannya dengan bantu-bantu pekerjaan di lokasi-lokasi sampai pada akhirnya dia dapat menyewa kontrakan sempit.

” Waktu di kontrakan itu, saya pinjam motor ke tetangga. Nah?, motor itu saya gunakan untuk ngojek. Akhirnya, saya untuk dua dengan yang miliki motor, ” lebih dia.

Sepanjang setahun, Dedi jadi tukang ojek. Sampai pada akhirnya ia dapat kuliah di Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman Purwakarta. Untuk penuhi keperluan hidup keseharian serta cost kuliah, lelaki kelahiran Sukasari, Subang, 11 April 1971 ini menyambi jadi tukang beras atau bekerja serabutan apa pun.

Walau hidup dalam kekurangan dengan cara ekonomi ia tak terasa putus harapan. Bahkan juga, kekurangan dengan cara finansial ini makin membuatnya semangat dalam melakukan hidup?. Hingga, perannya sebagai tukang ojek waktu syuting TOP, Kang Dedi terasa nostalgia saat remaja.

” Peran ini kembali mengenang nostalgia remaja, ” pungkas Kang Dedi