BREAKINGNEWS.CO.ID - Rencana pertemuan antara Presiden Joko Widodo dengan Prabowo Subianto terus diusahakan oleh masing-masing kubu. Rencananya pertemuan akan digelar Juli ini di Jakarta. Namun belum ada kesepakatan yang muncul dari kedua kubu kapan pertemuan ini akan digelar. Jokowi sendiri sudah memberikan sinyal saat pengumuman pemenang Pilpres lalu.

Bahlan sudah ada beberapa usaha yang dilakukan kubu Jokowi. Termasuk mengutus Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan. Bahkan Wapres Jusuf Kalla pun sempat diminta untuk merealisasikan jadwal pertemuan tersebut. Namun hingga kini jadwal pertemuan masih abu-abu. JK sendiri sudah bertemu Prabowo pada akhir Mei 2019. Najun pertemuan keduanya belum menemukan titik terang akan adanya pertemuan yang berujung pada rekonsiliasi dari kedua kubu.

Melihat kondisi tersebut, Direktur Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) Sirojuddin Abbas, menilai masih ada ganjalan seputar pertemuan itu. Masih ada banyak pertimbangan yang membuat belum terlaksananya pertemuan kedua tokoh yang bertarung di Pilpres 2019. Ganjalan terutama datang dari kubu Prabowo yang menjadi pihak yang dikalahkan dalam Pilpres 2019.

Direktur Program SMRC Sirojuddin Abbas menyatakan setidaknya ada empat faktor penghambat pertemuan Jokowi-Prabowo. Sirojuddin Abbas menyebutkan setidaknya ada empat faktor penghambat pertemuan Jokowi-Prabowo. "Saya kira memang yang paling berat dari kubu Prabowo [untuk bertemu dengan Jokowi]," kata Abbas kepada CNNIndonesia.com, Rabu (3/7). Menurut Abbas, setidaknya ada tiga situasi yang membuat Prabowo masih belum menyambut ajakan bertemu Jokowi itu.

Pertama, menurut pendapat Abbas, hambatan psikologis. Hal itu disebabkan Prabowo dan timnya butuh waktu untuk bisa memperbaiki hubungan dengan Jokowi dan pendukungnya setelah kalah dua kali berturut-turut dalam kontestasi Pilpres. Ia menyatakan kekalahan secara berturut-turut dalam dua edisi Pilpres cukup menguras emosi, pikiran, tenaga, serta biaya yang cukup besar.

Kondisi tersebut, tak hanya dialami Prabowo secara personal, melainkan juga keluarga besarnya, termasuk keluarga Presiden ke-2 RI Soeharto, bahkan hal itu juga dirasakan tim pendukungnya. "Ada situasi psikologis yang masih harus diatasi, terutama situasi emosi yang tinggi untuk diturunkan dulu," ujarnya. Putri Presiden ke-2 Soeharto, Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto, adalah mantan istri Prabowo yang juga pendukung Paslon 02.

Kedua, menurut Abbas, secara politik Prabowo masih menghitung dengan matang rencana pertemuan dengan mantan Gubernur DKI Jakarta itu. Tentunya Prabowo tak mau kehilangan simpati dari pendukungnya begitu saja jika membuat rekonsiliasi dalam waktu cepat ini. Menurut Abbas, tanpa persiapan, terutama penjelasan kepada para pendukung dan pemilihnya soal pertemuan, Prabowo bisa dituding macam-macam.

Abbas juga menyebut Prabowo maupun Gerindra tentu tak ingin pertemuan itu justru merugikan bagi mereka. Ia mengatakan saat ini mereka belum siap untuk menerima pertemuan politik tersebut, yang berarti mengakui kekalahan sendiri dan mengakui keunggulan Jokowi.

Alasan ketiga, situasi sosial para pendukung Prabowo di akar rumput yang masih panas. Hal ini dikarenakan masih terjadi ketegangan yang panas antarkelompok pendukung Prabowo dan Jokowi selama Pilpres kemarin. Abas menyatakan hal itu akan membuat Prabowo benar-benar berhitung. Selain itu, Abbas menyatakan Prabowo masih memikirkan reaksi para pendukungnya jika dirinya bertemu dengan Jokowi yang telah ditetapkan sebagai presiden terpilih. Ia menyatakan di kelompok pendukung Prabowo masih ada yang menolak rencana pertemuan ini.

Abbas memprediksi kelompok ini masih ada perasaan kecewa dan sakit hati jagoannya dinyatakan kalah. Terlebih, api kekecewaan ini 'dibakar' oleh pendukung Prabowo sendiri dengan memakai sentimen agama. Lihat saja, aksi demonstrasi oleh massa beratribut keagamaan pendukung Prabowo-Sandi menentang dugaan kecurangan Pilpres 2019.

"Hal itu yang membuat mereka sulit menerima pertemuan dan rekonsiliasi ini. Dan kalau kita lihat kelompok mana yang paling keras menentang itu kelihatannya masih kelompok-kelompok berbasis agama itu," ujarnya. Abbas juga menyarankan Prabowo dan mesin politiknya, seperti Gerindra, PKS, dan para relawan, menyediakan waktu terlebih dahulu untuk menjelaskan kepada pendukungnya agar mereka bisa menerima.

"Menjelaskan dulu kepada konstituennya, tentang manfaat dan target-target yang akan dicapai oleh Prabowo ketika bertemu pak Jokowi, jadi secara politik bisa diterima oleh konstituen," tuturnya.

Penyebab Keempat, situasi sosial masyarakat yang menuntut agar Prabowo mau bertemu dengan Jokowi. "Anda harus mengerti ini pertarungan politik tingkat tinggi, dua kali ya [kalah]. Kadang-kadang kepala desa saja butuh berminggu-minggu untuk ketemu, ini level kepala desa, gimana presiden?" kata Abbas.

Sementara Jokowi sendiri sudah menyatakan keinginan bertemu dengan Prabowo karena untuk mendinginkan suasana usai Pilpres. Ia menyebut pertemuan tersebut juga akan dilihat baik oleh masyarakat luas. "Dilihat baik oleh masyarakat, akan dilihat baik oleh rakyat. Mendinginkan suasana, bahwa elite-elite politik rukun-rukun saja. Enggak ada masalah," kata Jokowi beberapa waktu lalu.

Prabowo sendiri tak banyak berkomentar soal ajakan Jokowi untuk berjumpa. Mantan Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus itu hanya mengatakan akan mengatur waktu pertemuan dengan Jokowi. "Nanti kita lihat ya, semuanya ada waktunya," kata Prabowo usai bertemu Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), di Puri Cikeas, awal Juni 2019.

Terlanjur Benci

Pengamat politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI) Ujang Komarudin juga menduga ada kekhawatiran dari Prabowo ditinggal pendukungnya karena mau bertemu dengan Jokowi. Pasalnya, banyak para pendukung Prabowo yang kadung benci terhadap Jokowi. Menurut Ujang, Prabowo harus bertatap muka langsung dengan Jokowi sebagai upaya mendinginkan suasana di tengah masyarakat selepas konstelasi politik yang panas. "Rekonsiliasi itu suatu keniscayaan. Harus dilakukan. Bukan demi kelompok tertentu. Tapi untuk masyarakat, bangsa, dan negara," kata Ujang.

Ujang mengatakan Prabowo juga tak ingin pertemuan dengan rivalnya itu tak sekedar basa-basi tanpa solusi demi memulihkan masyarakat yang terbelah. Terlebih, kata Ujang, Prabowo memiliki beban lantaran sejumlah pendukungnya menjadi tersangka selama masa Pilpres ini. Apalagi adanya penetapan tersangka kepada para pendukung Prabowo itu yang tak bisa dilepaskan dari konteks Pilpres 2019.

"Nah ini harus beres dalam rekonsiliasi nanti. Dan konsep rekonsialisi Prabowo dalam bertemu Jokowi nanti harus sudah matang agar pertemuanya saling menguntungkan," ujarnya. Ujang menyatakan pertemuan Prabowo dengan Jokowi hanya tinggal menunggu momentum. Ia meyakini Prabowo akan membuka komunikasi langsung dengan Jokowi. Menurutnya, Prabowo adalah sosok negarawan yang tak mungkin menolak bertemu Jokowi. "Jadi pertemuan tersebut pasti akan terjadi. Ini hanya soal waktu. Soal momentum," tuturnya.