BREAKINGNEWS.CO.ID - Calon presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dalam pidato kenegaraannnya menjelang Pilpres 2019, kembali mengingatkan kepada relawannya terkait dengan pemilu presiden. Menurutnya, pemilu kali ini bukanlah pemilu dirinya maupun Sandiaga, melainkan pemilu bangsa Indonesia sendiri.

"Sesungguhnya, pemilihan umum ini bukan pemilihan umum-nya Prabowo, bukan pemilihan umum-nya Sandiaga Uno, tapi adalah pemilihan umum-nya bangsa Indonesia. Karena itu, kemenangan yang dapat kita rebut di 17 April 2019 nanti bukan kemenangan  Prabowo. Bukan kemenangan Sandiaga Uno. Tapi kemenangan bangsa Indonesia," kata Prabowo di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Senin (14/1/2019).

Untuk itu, lanjut Prabowo, pihaknya menginginkan sekali bahwa seluruh masyarakat Indonesia mengerti apa yang ingin diperjuangkannya.

"Jika kami dan partai-partai politik Koalisi Adil Makmur mendapat mandat rakyat pada pemilu kali ini, kami juga ingin menyampaikan kepada saudara, apa-apa yang menjadi kegusaran kami, apa-apa yang mendorong kami untuk terus berada di kancah politik, dan menawarkan diri kami untuk memimpin Negara Kesatuan Republik Indonesia," ucapnya.

"Saudara-saudara sekalian, beberapa waktu yang lalu, saya mendapat laporan, seorang buruh tani, seorang bapak, bernama pak Hardi di Desa Tawangharjo, Grobokan, meninggal dunia karena gantung diri di pohon jati di belakang rumahnya. Almarhum gantung diri, meninggalkan isteri dan anak karena merasa tidak sanggup membayar utang, karena beban ekonomi yang ia pikul dirasa terlalu berat. Selama beberapa tahun terakhir ini, saya mendapat laporan, ada belasan cerita tragis seperti almarhum Hardi ini," sambungnya.

Selain itu, Prabowo juga menyampaikan kegusaran lainnya atas laporan yang diterimanya selama berkeliling menemui masyarakat di berbagai daerah. Tak hanya kasus bunuh diri, Prabowo juga menceritakan nasib para petani di beberapa daerah.

"Ini kisah-kisah yang masuk berita. Yang tidak masuk berita mungkin lebih banyak lagi. Saya juga baru datang dari Klaten. Di situ, petani-petani beras bersedih, karena saat mereka panen 2 bulan yang lalu, banjir beras dari luar negeri," ungkapnya.

"Saya juga baru-baru ini dari Jawa Timur. Di sana, banyak petani tebu yang mengeluh, karena saat mereka panen, banjir gula dari luar negeri. Sementara itu, banyak ibu-ibu di mana-mana mengeluh, harga gula di Indonesia 2 sampai 3 kali lebih mahal dari rata-rata dunia. Padahal, dulu Nusantara pernah jadi eksportir gula," imbuh mantan Danjen Kopassus itu.

Untuk itu, dirinya pun mempertanyakan bahwa inikah negara yang dicita-citakan dan diperjuangkan oleh para pendiri bangsa Indonesia? "Bung Karno dan bung Hatta, oleh bung Syahrir, oleh Jendral Sudirman, oleh K.H. Hasyim Ashari dan K.H. Wahid Hasyim? Oleh K.H. Agus Salim, oleh bung Tomo? Negara yang banyak rumah sakitnya menolak pasien BPJS karena belum mendapat bayaran sekian bulan, yang rumah sakitnya dan terpaksa kurangi mutu layanan," tuturnya.

"Negara yang 1 dari 3 anak balitanya mengalami gagal tumbuh karena kurang protein, karena ibunya juga kurang protein, kurang gizi selama masa mengandung. Negara yang terus menambah utang untuk bayar utang, dan menambah utang untuk membayar kebutuhan rutin pemerintahan yaitu membayar gaji pegawai negeri. Negara yang  membiarkan kondisi keuangan BUMN-BUMN utama kita dalam kondisi sulit," imbuhnya.

"Garuda, pembawa bendera Indonesia, perusahaan yang lahir dalam perang kemerdekaan, rugi besar. Pertamina, perusahaan penopang pembangunan Republik Indonesia, sekarang dalam kesulitan. Demikian juga PLN, demikian Krakatau Steel. Jika pun ada BUMN yang untung, untungnya tidak seberapa," kata Prabowo menyampaikan kegusarannya itu.

Negara yang ada warganya yang tinggal hanya tiga jam dari Istana Negara, tidak mampu berangkat sekolah karena sudah dua hari tidak makan. Negara yang beberapa waktu yang lalu panik karena puluhan anak-anak di Kabupaten Asmat meninggal karena kelaparan, karena pejabat-pejabat pemerintahnya tidak hadir untuk membantu mereka yang paling membutuhkan. Inilah kondisi yang saya sebut Paradoks Indonesia. Negara kaya, namun rakyatnya masih banyak yang miskin. Kalau kita tidak hati-hati, kalau kita tidak waspada, kalau kita tidak berubah, kalau kita tidak bertindak dengan segera, situasi ini akan terus berlanjut ke arah yang lebih buruk," pungkasnya.