BREAKINGNEWS.CO.ID - Kasak-kusuk tentang siapa yang bakal menteri Presiden Joko Widodo pada 2019-2024, terus bergulir.  Agar tak salah pilih, sejumlah masukan dari tokoh politik di Tanah Air juga bermunculan. Terutama dari partai-partai pengusung pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin.

Apalagi sempat tersiar kabar Jokowi segera membahas nama menteri untuk periode kabinet 2019-2024 pada pertengahan Juli. Namun sebagai partai utama pengusung Jokowi, PDIP terkesan santai. Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno menyatakan usulan mengenai menteri ke mantan Gubernur DKI Jakarta itu adalah kewenangan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri.

"Saya tidak tahu soal itu, karena kewenangan Ketum," kata Hendrawan. Akan tetapi PDIP sendiri sudah menyiapkan kader-kader terbaiknya untuk menduduki pos Menteri penting. Hendrawan juga menyebut kader partainya mempunyai jejak rekam yang baik untuk menjadi menteri. "Setiap parpol tentu siap, karena salah satu fungsi parpol adalah pembinaan kader," ungkap Hendrawan.

Namun ia enggan menyebut siapa saja nama yang potensial untuk diusulkan menjadi menteri. Selama ini PDIP menduduki Menteri yang cukup vital seperti Mendagri Tjahjo Kumolo, Men Hukum dan HAM Yasonna Laoly, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menko Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharaani dan  Menteri Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah Anak Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga.

Bukan tidak mungkin PDIP akan kembali mendapatkan lima jatah menteri pada periode 2019-2024.  Hanya saja, kemungkinan bukanlah sosok yang sama yang diajukan oleh PDIP.

"Cukup banyak (yang potensial). Media dan masyarakat juga dengan mudah dapat mengenali kiprah kader-kader PDI Perjuangan. Sebagai kader, Pak Jokowi juga banyak mengenal mereka. Pada waktunya pasti dibicarakan dengan Ketum," jelasnya.

Masukan Ma'ruf Amin

Sementara Wakil Presiden terpilih Ma'ruf Amin menyatakan kabinet baru akan dibahas pada pertengahan Juli. Hanya saja belum ada nama yang pasti disebut oleh Jokowi. "Beliau (Jokowi) juga bilang Juli baru nanti ada pembicaraan-pembicaraan. Yang pasti kan tentu ada dari pihak partai koalisi, dari profesional, kira-kira begitu. Jumlahnya belum, apalagi orangnya. Orangnya tambah belum," ucap Ma'ruf.

Namun Ma'ruf memastikan partai pendukung akan mendapat jatah di kabinet Jokowi. Tapi dia tidak bisa memastikan jumlah kursi menteri bagi partai pendukung. "Kalau partai pastilah. Namanya partai pendukung. Tapi jumlahnya berapa itu belum ada," kata Ma'ruf.

Lain halnya dengan usulan dari Tenaga Ahli Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Ali Mochtar Ngabalin. Politisi Partai Golkar ini menyebut Jokowi akan menyiapkan generasi pemimpin baru dalam kabinet pemerintahan periode kedua.

"Presiden Jokowi itu mempersiapkan diri untuk periode yang kedua. Banyak orang mesti tahu apa yang sedang beliau lakukan adalah bagian dari strategi beliau dalam mempersiapkan pemimpin-pemimpin baru bagi Indonesia," kata Ngabalin.

Ngabalin berbicara mengenai generasi baru ini dengan mengaitkan narasi yang pernah digunakan Jokowi terkait menteri muda. Namun urusan usia menteri, bagi Ngabalin, tak perlu dipertentangkan.

"Sebenarnya, usia muda, usia tua, milenial, atau orang tua itu tidak perlu menjadi pembahasan yang serius, apalagi menjadi dikotomi. Bahwa beberapa diksi dan narasi yang dipakai presiden terkait dengan sejumlah menteri-menteri muda, seperti beliau menyebutkan antara 20-an dan sekian itu, itu adalah bagian dari pada ekspresi yang, gerakan cepat yang terus dilakukan oleh Presiden Joko Widodo," tutur dia.

Selain partai pendukung organisasi besar non partai seperti NU (Nahdlatul Ulama) juga berpeluang mendapat jatah Menteri. Hal ini ditegaskan oleh Ma’ruf Amin. "(Peluang menteri) dari banyak pihaklah. Termasuk NU, termasuk yang lain-lain. Tentu semuanya mungkin. Tapi itu hak prerogatif presiden," kata Ma'ruf Amin, Kamis (4/7).