JAKARTA - Sebutan "sterilisasi" memang sudah terlanjur dikenal luas untuk menyebut suatu jenis kontrasepsi pada wanita yang menggunakan cara operasi. Sterilisasi berarti membuat seseorang menjadi steril atau mandul. Pada wanita, kontrasepsi dengan cara operasi ini sebenarnya disebut tubektomi, sedangkan pada pria disebut vasektomi.

Pada tubektomi yang dilakukan adalah memotong saluran telur (tuba fallopii), sedangkan pada vasektomi dilakukan pemotongan pada saluran sperma (vas deferens). Akibat pemotongan saluran tersebut, maka sel telur tidak dapat masuk ke dalam rahim, dan sel spermatozoa tidak dapat dikeluarkan ketika pria mengalami ejakulasi. Jadi pada pria yang divasektomi, ketika ejakulasi terjadi hanya cairan kelenjar kelamin saja yang dikeluarkan, tanpa sel spermatozoa. Maka wanita yang ditubektomi tidak dapat hamil, dan pria yang divasektomi tidak dapat menghamili.

Dengan mengerti tindakan operasi yang dilakukan pada tubektomi, juga pada vasektomi, maka dapat dimengerti bahwa tubektomi dan vasektomi tidak menimbulkan akibat buruk bagi dorongan seksual atau gairah seksual. Juga tidak berakibat buruk bagi fungsi seksual yang lain. Jadi tubektomi dan vasektomi tidak menimbulkan akibat buruk bagi kehidupan seksual mereka yang memilih cara kontrasepsi tersebut, maupun pasangannya.

Dorongan seksual atau gairah seksual dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu hormon seks, keadaan kesehatan tubuh, faktor psikis, dan pengalaman seksual sebelumnya. Kalau faktor-faktor tersebut baik dan mendukung, maka dorongan seksual akan baik. Sebaliknya, bila faktor-faktor tersebut tidak mendukung atau menghambat, maka dorongan seksual akan tertekan atau mungkin hilang sama sekali.

Sebagai contoh, kalau seseorang mengalami penyakit tertentu, mungkin pada akhirnya dorongan seksual menjadi tertekan atau terhambat. Kalau sebelumnya pengalaman seksual selalu tidak menyenangkan, maka akhirnya dorongan seksual hilang. Demikian juga kalau mengalami kejemuan dengan suasana sehari-hari dalam hubungan dengan pasangan, dorongan seksual juga menurun. Dengan merasa lebih tenang, seharusnya wanita lebih bebas melakukan hubungan seksual, sehingga merasa lebih bergairah. Tetapi tentu saja bila tidak ada faktor lain seperti tersebut di atas, yang menghambat dorongan seksual.

Reaksi psikis seperti di atas dapat juga dialami oleh pria yang mengalami vasektomi. Setelah divasektomi, secara psikis pria merasa lebih tenang karena tidak ada perawaan khawatir isterinya menjadi hamil. Dengan demikian pria merasa lebih bebas melakukan hubungan seksual, sehingga lebih dapat menikmatinya.

Mengenai usia, tidak selalu benar pendapat yang menyatakan bahwa wanita pada kelompok usia tertentu mempunyai gairah seksual dan kemampuan seksual yang paling baik. Sebenarnya bukan usia itu sendiri yang menentukan, melainkan usia dalam hubungannya dengan faktor-faktor yang mempengaruhi dorongan seksual seperti tersebut di atas.

Pada usia tergolong muda, pada umumnya keadaan kesehatan tubuh masih baik, sehingga merupakan faktor yang mendukung dorongan seksual. Sebaliknya pada usia yang tergolong lanjut, penyakit atau gangguan fisik acapkali muncul, sehingga dapat menimbilkan gangguan pada fungsi seksual, termasuk dorongan seksual yang terhambat.

Bagaimana faktor psikisnya? Bagaimana pengalaman seksual sebelumnya, menyenangkan atau mengecewakan? Kalau faktor-faktor lain itu ternyata menghambat atau tidak mendukung, maka wajar jika mengalami keluhan, walau usianya masih tergolong muda dan matang. Di pihak suami, tubektomi yang dialami isteri secara psikis seharusnya juga berpengaruh baik dan mendukung fungsi seksual. Karena mengetahui sang isteri tidak mungkin hamil lagi setelah tubektomi, maka secara psikis suami merasa lebih bebas dan dapat menikmati kehidupan seksualnya.