BREAKINGNEWS.CO.ID-Pertandingan Inggris vs Belgia di akhir penyisihan Grup G Piala Dunia 2018 masih menyisakan banyak pertanyaan bagi mayoritas penikmat sepak bola dunia. Tak terkecuali juga pada sebagian besar media media mainstream Inggris. Walau secara umum mereka tetap mengisyaratkan dukungannya pada apa yang dilakukan Gareth Saouthgate, manajer-pelatih Timnas Inggris, namun hal itu tidak mengurangi antusiasme untuk menyoroti pertandingan tersebut. Media-media Inggris menyebut, itu adalah satu pertandingan Piala Dunia paling aneh yang pernah dilihat.

Gareth Southgate sendiri mungkin tidak akan terlalu kecewa dengan hasilnya, bahkan jika semua penggemar di Stadion Kaliningrad Jumat (29/6/2018) dini hari tadi mungkin tidak setuju.

Inggris Jumat pagi ini berangkat ke Moskow untuk menjalani pertandingan babak 16 besar dengan Kolombia pada Selasa (3/7) malam, dan jika menang, akan menemui Swedia atau Swiss di perempat daripada. Dengan kata lain, Inggris terhindar dari pertemuan dengan Brasil atau Meksiko di babak 8 besar itu.

Menarik untuk mencari tahu apakah, bagi Inggris atau sebaliknya Belgia, lebih baik untuk menempati peringkat teratas Grup G atau mengakhiri pertandingan dengan menempati posisi kedua? Bagaimana pula rasanya hasil itu bagi para pemain, serta kedua manajer, Gareth Southagte di tim Inggris dan Roberto Martinez di kubu Belgia?

Sebenarnya, Inggris dan Belgia keduanya bermain seolah-olah mereka tidak yakin apakah mereka benar-benar ingin menang atau tidak. Dan hasilnya adalah kontes yang hangat-hangat kuku yang kurang gairah. Southgate dan Roberto Martinez menampilkan 'Tim B' masing-masing, seperti memberikan pesan bahwa pertandingan itu tidak begitu penting. Begitu banyak pemain Inggris dan Belgia ini adalah rekan satu tim di level klub, di mana mereka saling berpelukan sebelum pertandingan, pada setengah waktu dan setelah pertandingan.

Baik pendukung Inggris dan Belgia sama-sama pula melampiaskan kekesalannya dari jalannya pertandingan di 45 menit pertama. Itu memnag babak pertama yang buruk. Pendukung Belgia bersorak ketika pemain mereka mendapat kartu kuning ketika pertandingan masih tanpa gol karena itu berarti mereka akan mengakhiri babak penyisihan di urutan kedua karena memiliki lebih banyak kartu kuning, setidaknya jika pertandingan berakhir imbang.

Menarik pula melihat bahwa ketika Adnan Januzaj mencetak gol, manajer-pelatih Roberto Martinez berdiri terpaku di tempat. Bos Belgia itu tidak menunjukkan secercah emosi karena, dalam pikirannya, tidak ada yang patut dirayakan.

Sebelum ini nama Adnan Januzaj tidaklah terlalu dikenal, meski golnya di menit ke-51 itu membuktikan kalau ia seorang cracker. Dia pernah memperkuat Sunderland, lalu ke Manchester United, walau karirnya di Old Trafford juga tak terlalu bersinar dan berakhir dengan kekecewaan, sebelum akhirnya ia berlabuh di Real Sociedad.

Setelah beberapa pertandingan penyisihan grup terbaik dan paling dramatis selama dua pekan ini, maka laga Inggris vs Belgia ini dinilai terasa seperti anti-klimaks. Southgate membuat delapan perubahan pada starting XI dan juga menggunakan pemain yang belum memainkan game kompetitif selama lebih dari dua minggu.

Mungkin itu menjelaskan mengapa Eric Dier terkesan tidak terlalu ngotot sementara Danny Rose terlihat sering membiarkan Adnan Januzaj mendapatkan begitu banyak ruang untuk memilih tempatnya sebelum menembak ke pojok atas.

Trent Alexander-Arnold adalah pemain terbaik Inggris di sayap kanan, John Stones (salah satu dari tiga orang dari starting XI sebelumnya kiper Jordan Pickford dan Ruben Loftus-Cheek) juga tampil menawan walau akhirnya harus membutuhkan perawatan di betisnya. Marcus Rashford memiliki peluang terbaik Inggris setelah 66 menit. Namun, umpan balik indah dari Jamie Vardy gagal diselesaikan dengan baik oleh penyerang Manchester United itu, kendati posisinya sudah memungkinkan untuk menyamakan kedudukan. Apakah Marcus Rashford sengaja menyia-nyiakan peluangnya?