BREAKINGNEWS.CO.ID – Menko Perekononian Darmin Nasution mengungkapkan bahwa pemerintah memandang  keberadaan perkebunan sawit lestari, menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional berkelanjutan. “Perkebunan sawit tanah air  telah ikut serta membuka lapangan pekerjaan bagi jutaan masyarakat Indonesia dan turut melakukan prinsip dan kriteria berkelanjutan,”kata Darmin dalam pembukaan acara  Konferensi Internasional Kelapa Sawit dan Lingkungan  atau ICOPE 2018  di Bali pada Jumat (27/7/2018).

Fakta itu juga dikuatkan dengan data lapangan  yang menyebutkan bahwa tidak kurang dari  42%  lahan kelapa sawit di seluruh Indonesia, telah dimiliki oleh petani kelapa sawit. Sehingga, perkebunan kelapa sawit, telah menjadi soko guru bagi pertumbuhan ekonomi nasional.

Untuk itu, mengelola perkebunan kelapa sawit lestari, juga sesuai dengan prinsip dan kriteria Indonesia Sustainable Palm Oil (ISPO) yang diterapkan pemerintah secara mandatori. “Perkebunan kelapa sawit Indonesia harus menerapkan ISPO sebagai bagian dari sustainability, untuk menghasilkan minyak sawit lestari,”tambahnya.

Keberadaan sertifikasi ISPO sangat penting dilakukan perkebunan kelapa sawit guna menguji pelaku usaha, akan kepatuhan hukum dan peraturan yang berlaku di Indonesia. Dengan menerapkan prinsip dan kriteria ISPO, oleh para pelaku perkebunan kelapa sawit, Darmin menilai, perkebunan kelapa sawit akan mampu menghasilkan minyak sawit lestari dan berkontribusi terhadap pembangunan nasional yang ramah lingkungan. Terlebih, penerapan ISPO juga akan turut meningkatkan produktivitas panen yang dihasilkan perkebunan kelapa sawit.

 

Mantan Gubernur BI ini menambahkan, minyak sawit adalah produk tanaman yang paling efisien dibandingkan dengan tanaman minyak nabati lainnya seperti kacang kedelai, rapeseed atau bunga matahari. Berdasarkan rasio penggunaan lahan, per hektar kebun sawit akan menghasilkan sekitar 4 ton minyak sawit. Sedangkan biji bunga matahari hanya menghasilkan 0.6 ton.

Selain itu produksi minyak sawit sangat efisien dalam hal penggunaan lahan dan mengonsumsi energi paling sedikit dibandingkan dengan banyak tanaman minyak lainnya. “Jika kebutuhan minyak nabati global tidak dipenuhi dari minyak sawit, berapa banyak deforestasi global, yang akan terjadi untuk memenuhinya?”tuturnya menegaskan.

“Bekerjasama dengan multi pihak, forum diskusi ilmiah seperti ICOPE dapat berkontribusi menciptakan inovasi dan teknologi, yang dapat mengatasi bahaya lingkungan akan emisi karbon, aktivitas deforestasi dan kebakaran lahan,” tandas Menko Darmin.