BREAKINGNEWS.CO.ID – Indonesia bersama ASEAN dan Uni Eropa seharusnya satu langkah dan suara dalam menentang aksi proteksionisme perdagangan di seluruh dunia. Hal tersebut menjadi perlu dikedepankan mengingat di tengah dunia yang kian terbuka.

Untuk itu dua ini  dua organisasi regional terdepan di kawasan masing-masing, perlu lebih mengedepankan prinsip-prinsip multilateralisme dan perdagangan bebas, termasuk mencegah praktek proteksionisme, khususnya dalam konteks kelapa sawit.

Dalam kaitan kelapa sawit ini, Menlu Retno menyatakan bahwa Indonesia mengikuti dengan seksama hasil kesepakatan Trilog UE untuk Renewable Energy Directive (RED) II pada Juni 2018. “Ada potensi diskriminasi kelapa sawit dengan penerapan  sejumlah kriteria yang bias untuk biofuel, antara lain dengan membedakannya berdasarkan tinggi rendahnya resiko emisi karbon pada skema Indirect Land Used Changed (ILUC,” katanya pada Pertemuan Menteri Luar Negeri antara ASEAN dan UE di Singapura, dalam keterangan resminya yang diterima Senin (8/6/2018).

Lebih lanjut kata Retno, isu minyak kelapa sawit harus dibahas secara bijak karena kelapa sawit telah menjadi sumber mata pencaharian bagi lebih dari 5 juta petani kecil di ASEAN. “Kelapa sawit sangat penting perannya dalam mendukung upaya kita meningkatkan taraf hidup masyarakat. Tidak mungkin kita membahas permasalahan ini tanpa mempertimbangkan elemen-elemen terkait pemenuhan Sustainable Development Goals. Untuk itu, Indonesia kembali mengajak UE untuk bersama-sama membangun standar sustainabilityseluruh minyak nabati yang inklusif, SDGs Compliance on Vegetable Oils." jelas Retno.

Sekadar informasi, kerja sama ASEAN dan UE telah berkembang di berbagai bidang dan saat ini berada pada level enhanced partnership. UE secara resmi menjadi Mitra Wicara (Dialogue Partner) ASEAN pada tahun 1977. Tahun 2017 lalu, ASEAN dan UE memasuki 40 tahun kerja sama kemitraan yang diperingati dengan penyelenggaraan KTT Peringatan 40 Tahun Kemitraan ASEAN-UE di Manila, Filipina, November 2017.

UE adalah investor terbesar bagi ASEAN dengan nilai investasi sebesar USD 32,2 milyar pada tahun 2016. Sementara itu, total volume perdagangan ASEAN-EU pada tahun 2017 tercatat sebesar USD 257,4 milyar mengalami kenaikan dari USD 233,6 milyar pada tahun 2016; menjadikan UE sebagai mitra dagang terbesar kedua bagi ASEAN.