JAKARTA--Pemerintah Indonesia dan Turki meratifikasi naskah perjanjian untuk mengawali perundingan sektor perdagangan dalam Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA). Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan, ratifikasi naskah tersebut dilakukan dengan Deputi Perdana Menteri Turki, Fikri Isik, di Tangerang, Kamis (12/11/2017).

Pengesahan naskah perjanjian ini sebagai upaya merealisasikan visi dua negara dalam satu perjanjian perdagangan bilateral yang bisa mencapai 10 miliar dolar pada 2023. Selain juga dimaksudkan untuk memperbaiki kerjasama bilateral ekonomi kedua yang terletak di zona berbeda ini.

"Setelah ini (perjanjian PTA) ini telah dilaksanakan, maka akan bisa merealisasikan visi dari kedua pemipin negara," ucap Enggartiasto.|

Sedangkan Fikri Isik menyebutkan bahwa negaranya menyadari dengan jumlah Sumber Daya Manusia (SDM) yang besar, Indonesia adalah salah satu negara punya peran strategis dengan potensi yang besar untuk kawasan Asia.

Pemerintah Turki juga memproyeksikan bahwa di tahun 2030 Indonesia akan masuk dalam sepuluh negara dengan perekonomian terbesar di dunia. "Keputusan ini sangat penting untuk membawa level perekonomian kedua negara menjadi lebih baik," kata Fikri Isik.

Secara khusus, ia mengaku pihaknya mendukung rencana Indonesia untuk terus mengembangkan energi dan sumber daya kelistrikan yang dimiliki oleh Indonesia.

Ia juga berharap agar kedua negara bisa bekerjasama untuk terus mengembangkan sektor barang kesehatan and jasa yang mereka miliki.
Pada 2016, total nilai dagang kedua negara tersebut turun 9 persen dari tahun sebelumnya menjadi US$1,7 miliar.

Di tahun yang sama, nilai ekspor Turki ke Indonesia meningkat sebesar 22,5 persen menjadi US$177 juta. Namun, nilai impor yang dilakukan oleh Turki dari Indonesia menurun 13 persen menjadi US$1,4 juta.