BREAKINGNEWS.CO.ID - Banyak pihak menilai bahwa permasalahan yang tengah dialami oleh bangsa ini cukup serius. Salah satunya yakni ketimpangan sosial yang semakin dirasakan oleh masyarakat perlu untuk dibenahi.

Wakil Ketua Umum Rumah Pejuang Indonesia (RPI), Deani Sudjana mengatakan jika Indonesia tidak membutuhkan pemimpin yang berpengalaman namun gagal dalam membawa perubahan.

"Bangsa ini tidak membutuhkan pemimpin yang berpengalaman, satu periode memimpin tidak membawa perubahan yang berarti. Kita butuh pemimpin cerdas, tegas, bermoral dan bermartabat serta berakal sehat," kata Deani di Jakarta, Selasa (12/2/2019).

Lantas, menjelang pemilihan presiden  (Pilpres) 2019 ini, Deani pun menyoroti cara berkampanye calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) nomor urut 01, Jokowi-Ma'ruf yang merupakan paslon petahana. Menurutnya, kubu 01 berkomunikasi kerap menilai bahwa merekalah yang paling hebat dan berpengalaman.

"Dalam berkomunikasi, eloklah jangan selalu menganggap dirinya paling hebat dan berpengalaman, rakyat tidak bodoh. Rakyat bisa menilai, dibuktikan pada pilpres mendatang diharapkan tidak ada kecurangan," tegas Deani.

Sikap kesombongannya dengan merendahkan rivalnya Prabowo - Sandiaga Uno, sama dengan mengajak 260 juta orang agar tidak memilihnya. Ini merupakan sistem berpolitik tak sehat, sportiflah," sambungnya.  

Konon yang selalu dibanggakan kubu 01 yakni pembangunan infrastruktur yang sifatnya multi profit. Rakyat, kata Deani, membutuhkan jalan bebas hambatan tanpa bayar. "Pembangunan jalan tol dan monorel sama artinya penjajahan ekonomi. Yang rakyat butuhkan pemimpin yang dapat membawa perubahan bagi Indonesia. Pembangunan infrastruktur, tata kelola  ekonomi, hukum, pendidikan, kesehatan dan mengatasi angka pengangguran dan memperkecil angka kemiskinan," tuturnya.

"Buat apa memiliki pemimpin yang berpengalaman tapi gagal. Lebih baik memiliki pemimpin yang belum berpengalaman terhadap bangsa dan negara, tapi memiliki kelebihan kecintaannya terhadap bangsa dan negara. Yang lebih mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, tidak didikte, tidak dapat diintervensi oleh siapapun juga, tidak membawa kehancuran bagi Indonesia," imbuhnya.

"Kita sadar, Indonesia harus dipimpin oleh figur yang benar dan benar- benar agar Indonesia jadi benar," pungkas Deani.