BREAKINGNEWS.CO.ID -   Sejumlah faktor eksternal dan domestik menjadi penyebab rupiah dan IHSG  kompak melemah. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin (11/11/2019), ditutup melemah dipicu sentimen eksternal, seperti juga indeks yang terkoreksi beberapa poin saat penutupan perdagangan.

Rupiah ditutup melemah 53 poin atau 0,38 persen menjadi Rp14.067 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.014 per dolar AS.

Menruut Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, intervensi  Bank Indonesia di pasar valas dan obligasi dalam perdagangan Domestic Non Deliverable Forward (DNDF) Senin ini dan data ekonomi dalam negeri yang positif, tidak serta merta membuat mata uang rupiah kembali menguat. "Pasar kembali fokus terhadap data eksternal yang kurang menguntungkan sehingga wajar kalau rupiah Senin ini melemah cukup tajam," ujar Ibrahim di Jakarta, Senin (11/11).

Selama akhir pekan, Presiden AS Donald Trump membantah laporan bahwa Beijing dan Washington sepakat untuk mengembalikan beberapa tarif barang satu sama lain.

Hal tersebut memicu keraguan baru tentang kapan dua ekonomi terbesar dunia itu dapat mengakhiri perang dagang 16 bulan terakhir yang telah memperlambat pertumbuhan global.

Sentimen Domestik

Sedangkan dari lantai bursa,   Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)  melemah seiring aksi jual investor asing.

 

IHSG ditutup melemah 29,25 poin atau 0,47 persen ke posisi 6.148,74. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 bergerak turun 3,22 poin atau 0,33 persen menjadi 978,47. "Hari ini minim sentimen positif dari domestik. Selain itu, terdapat beberapa negara yang memperingati hari libur nasional seperti Prancis, Kanada, maupun AS. Sentimen lainnya yaitu faktor instabilitas politik dan keamanan di Hong Kong," kata analis Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta seperti dikutip laman Antaranews.com.

Dibuka melemah, IHSG menghabiskan hampir seluruh waktunya di zona merah hingga penutupan perdagangan saham. Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual asing bersih atau net foreign sell sebesar Rp524,75 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 474.665 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 6,52 miliar lembar saham senilai Rp5,69 triliun. Sebanyak 155 saham naik, 247 saham menurun, dan 155 saham tidak bergerak nilainya.