JAKARTA - Video yang menunjukkan nota pengiriman yang dicetak di balik Alquran ramai diperbincangkan. Kementerian Agama (Kemenag) mengatakan sisa cetakan Alquran yang tidak dipakai mesti dimusnahkan supaya tidak disalahgunakan. Kepala Biro Humas Data dan Informasi Kemenag RI Mastuki menjelaskan pihaknya sudah mengeluarkan edaran tertulis yang dikeluarkan oleh Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Quran (LPMQ).

Edaran tertulis itu dikirimkan pada seluruh penerbit, percetakan, serta distributor Alquran yang intinya menegaskan sisa barang cetakan Alquran yang tidak dipakai mesti dimusnahkan. "Surat Edaran tersebut merupakan elaborasi standar pengelolaan sisa barang cetakan. Isi edaran itu antara lain agar sisa bahan cetakan Alquran yang tidak dipergunakan lagi segera dimusnahkan dengan cara-cara yang sesuai untuk menjaga kemuliaan dan kesucian Alquran," kata Mastuki, Minggu (3/6/2018).

Mastuki menegaskan tujuan dikeluarkannya edaran itu supaya bahan-bahan sisa cetakan Alquran itu tidak disalahgunakan untuk menodai kesucian Alquran. Dia mencontohkan kasus pencetakan nota di balik lembaran Alquran sampai kasus kertas pembungkus serta terompet.

Pemusnahan sisa bahan cetakan Alquran itu juga tidak sembarangan. Mastuki mengatakan pemusnahan sisa-sisa cetakan Alquran itu mesti dibakar atau didaur ulang setelah diolah menjadi bubur.

"Sisa bahan cetakan itu bisa berbentuk bahan kertas atau plat. Sisa bahan kertas meliputi sampul, tulisan ayat Alquran, dan bagian yang mengandung tulisan ayat Alquran atau kalimat suci lainnya. Cara memusnahkannya dengan dibakar lalu abunya dilarung ke laut atau dipendam dalam tanah. Sisa bahan kertas juga bisa didaur ulang setelah diproses menjadi bubur kertas," urainya.

Untuk pelat sisa cetakan Alquran, pemusnahannya juga tidak bisa asal-asalan. Ayat suci yang tertulis dalam pelat itu harus dihilangkan. "Adapun pelat sisa cetakan Alquran, harus dimusnahkan dengan cara menghapus ayat-ayat Alquran di dalamnya agar tidak disalahgunakan. Penghapusan bisa dilakukan dengan menggerinda bagian yang ada ayatnya atau menghapusnya dengan cairan kimia," paparnya.

Mastuki menjelaskan untuk memastikan surat edaran itu dijalankan LPMQ secara berkala melakukan pemeriksaan. Apabila masih ada temuan atau penyalahgunaan, Mastuki mempersilakan masyarakat untuk melapor ke kepolisian supaya ditindaklanjuti. "Jika masih ada pihak-pihak yang menggunakan atau menyalahgunakan bahan-bahan tersebut, masyarakat dapat melaporkan ke pihak kepolisian agar ada tindak lanjut. Itu sudah ranah hukum. Polisi yang bisa menindaklanjuti sesuai hukum yang berlaku," terangnya.