BREAKINGNEWS.CO.ID - Capres dan cawapres 01, Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin memiliki memiliki sekitar 26 program di bidang hukum. Jumlah itu lebih banyak daripada yang dimiliki capres cawapres 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang hanya memiliki 21 program. Akan tetapi, menutut Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin), visi-misi kedua paslon itu masih tidak terukur.

Kabid Humas DPP Ikadin, Erwin Natosmal Oemar mengungkapkan, kedua paslon tidak serius menawarkan program-program di bidang hukum kepada masyarakat. Erwin mencontohkan, program-program dua pasangan calon yang sudah terukur. Program Jokowi yang terukur misalnya melanjutkan reformasi di lembaga pemasyarakatan (lapas), termasuk mengatasi overcrowding dan melanjutkan penyelesaian yang berkeadilan terhadap kasus-kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Sementara program Prabowo yang terukur, yakni membenahi kebijakan sistem pendanaan partai politik untuk memperkuat kelembagaan parpol dalam menjalankan peran dan fungsinya sebagai pilar demokrasi dan mempercepat penyelesaian perjanjian batas maritim Indonesia dengan 10 negara tetangga.

"Jokowi memiliki sekitar 26 program, sementara Prabowo memiliki 21 program. Tetapi ukurnya tidak kuantitas. namun, sejauh mana program itu bisa terukur. Untuk Jokowi, dari 26 program, hanya 46% atau 12 program Jokowi yang terukur dan jelas. Sementara hanya 10 program atau 47% program Prabowo yang terukur," ucap Erwin dalam diskusi 'Membedah Program Hukum, HAM dan Antikorupsi Capres 2019-2024', di Jakarta, Minggu (13/1/2019).

Visi-misi dan program sejatinya, kata Erwin merupakan sektor yang paling vital karena kontrak politik dengan rakyat. Visi-misi dan program menjadi pengikat para calon agar dapat ditagih oleh masyarakat setelah terpilih nantinya. "Tolong perbaiki lagi sehingga publik bisa yakin, sehingga tidak membeli kucing dalam karung," katanya.

Sementara itu, Pada isu antikorupsi, jumlah program Jokowi terukur 23 persen lebih baik daripada Prabowo yang hanya 19 persen. Sementara isu reformasi hukum dan kelembagaan, jumlah program Prabowo 57 persen, lebih unggul daripada Jokowi yang hanya 42 persen. Namun, program yang ditawarkan Jokowi jauh lebih unggul dan terukur daripada Prabowo.

"Ada problem reformasi regulasi dan HAM, namun tidak terpotret secara baik oleh kedua calon. Khususnya terkait reformasi regulasi, di akhir masa SBY (Presiden Susilo Bambang Yudhoyono) lebih baik dibanding dengan zaman Jokowi," pungkas Erwin.