BREAKINGNEWS.CO.ID - Bagi politisi atau publik figure, gelar kesarjaan atau pendidikan, terkadang dipandang sangat penting. Tak heran jika banyak oknum politisi di Indonesia dari dulu hingga kini beramai-ramai memburu gelar pendidikan itu. Baik Strata 1 (S1), S2 dan S3 bahkan mungkin gelar professor.

Tak heran kasus-kasus pemalsuan ijazah politisi atau kepala daerah, acap kali muncul. Bahkan beberapa pejabat tinggi, juga dituding memiliki atau membeli gelar palsu itu. Celakanya, tak hanya perguruan tinggi di dalam negeri saja yang terlibat namun juga dari luar negeri.

Kini tudingan gelar kesarjaan juga menerpa Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, Bambang Soesatyo. Gelar Master of Business Administration (MBA) milik Bambang yang diperoleh dari kampus IM Newport Indonesia, dipersoalkan oleh politisi Partai Golkar lainnya.

Kader muda Partai Golkar Jakarta, Agus Harta, menyebut jika dirinya sudah menelusuri dimana IM Newport Indonesia, namun tidak ada website resminya. Agus mencurigai gelar MBA Bamsoet bisa saja bodong atau tidak jelas.

Atas tudingan itu, Bamsoet mempersilakan alumni IMNI menempuh langkah hukum. "Karena ada statement itu, saya persilakan pada kawan-kawan alumni IMNI untuk melakukan langkah-langkah hukum terhadap orang yang menista institusi kami," kata Bamsoet di Kompleks Parlemen, Senayan, Jumat, 5 Juli 2019.

Pelaksana tugas (Plt) Ketua DPD Golkar DKI Jakarta Rizal Mallarangeng mengaku heran dengan langkah Bamsoet yang mempersilakan alumni IMNI melaporkan pihak yang menuding ijazah S-2 nya dari kampus tersebut palsu.

"Masa kader seperti itu mau dilaporkan ke polisi? Kalau tidak setuju dengan kritik Agus, Pak Bamsoet jelaskan saja dengan baik. Soal gelar MBA Pak Bamsoet, ya dibuktikan saja. Tidak usah pakai lapor polisi," kata Rizal.

"Setahu saya universitas yang disebut Agus Harta memang bodong. Kalau di Texas Amerika Serikat, dibilang ilegal, ijazahnya tidak boleh dipakai melamar pekerjaan apapun," ujar  Rizal.

Qomar Terganjal

Kasus gelar palsu atau bodong juga menerpa mantan politisi Partai Demokrat, Nurul Qomar. Personel grup lawak 4 Sekawan ini  ditahan polisi karena diduga memalsukan ijazah pendidikan strata dua dan tiganya. Nurul Qomar disebut melakukan hal tersebut  demi pencalonan dirinya sebagai Rektor Universitas Muhadi Setiabudi tahun 2017.

Dalam kasus ini, Qomar diduga telah mememalsukan dokumen SKL (surat keterangan lulus) S2 dan S3. Berkas perkaranya pun sudah masuk Kejaksaan Negeri Brebes. Namun Qomar membantah jika dirinya melakukan pemalsuan dokumen SKL S2 dan S3. Ia mengatakan ketika diminta menjadi rektor Universitas Muhadi Setiabudhi, dirinya memang tak melampirkan SKL S2 dan S3 dari UNJ. Lantaran ia memang belum selesai menjalani perkuliahan di sana.

Ijazah Palsu Marak

Pada tahun 2016 sempat muncul kasus 187 pemilik ijazah palsu. Para pemilik ijazah palsu tersebut diduga telah menduduki jabatan strategis di berbagai lembaga negara. Salah satu yang diduga telag memproduksi secara murah meriah ijazah-ijazah tersebut adalah University of Berkeley. Universitas ini telah menjual lebih dari 250 ijazah palsu dengan berbagai gelar akademik palsu.

Pada tahun, Rektor University of Sumatera (Medan) ditangkap pihak kepolisian atas kasus pembuatan ijazah palsu. Rektor itu mengaku telah mengeluarkan 1.200 ijazah palsu dalam kurun 12 tahun dengan kisaran harga 10 juta sampai 40 juta rupiah.

Maraknya kasus pemalsuan gelar ini memang rawan terjadi karena adanya kenaikan/promosi pangkat akademik di perguruan tinggi. Selain itu, upaya mendapat gelar secara pragmatis ini didorong juga untuk meningkatkan status sosial dan popularitas dalam memperebutkan jabatan politik atau jabatan lainnya di masyarakat.