BREAKINGNEWS.CO.ID -  Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank  di Jakarta masih melanjutkan pelemahan di awal pekan. Hal serupa juga terjadi di lantai bursa saat indeks juga ditutup turun dibanding perdagangan hari sebelumya

Pada Selasa (13/8/2019) sore, rupiah melemah 75 poin atau 0,53 persen menjadi Rp14.325 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.250 per dolar AS. Sementara IHSG juga ditutup dengan koreksian sebesar 39,63 poin atau 0,63 persen ke posisi 6.210,96.

"Ketidakpastian hubungan dagang Amerika Serikat - China masih menjadi faktor yang mendorong minat investor untuk mengoleksi emas," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi, seperti dikutip Antaranews.com.

Pasalnya, lanjut Ibrahim, pada akhir pekan lalu Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya masih belum siap untuk membuat kesepakatan dengan China.

Sebelumnya Trump juga sudah mengancam akan mengenakan tarif 10 persen pada produk impor asal China senilai 300 miliar dolar AS.

Beberapa analis memperkirakan jika perang dagang AS-China terus tereskalasi bisa menyebabkan perekonomian global jatuh kepada resesi.

Hal itu dikarenakan AS dan China merupakan dua negara dengan perekonomian terbesar di dunia. Pengaruhnya akan melebar ke seluruh penjuru negeri.

Untuk mempertahankan stabilitas nilai mata uang rupiah, Bank Indonesia kembali memantau keadaan pasar dengan cara melakukan intervensi dalam pasar obligasi dan valas melalui transaksi Domestic Non Delivery Forward (DNDF) yang bertujuan demi membendung risiko yang dipicu kekhawatiran akan krisis keuangan di Argentina dan risiko politik di Hong Kong serta perang dagang. "Walaupun intervensi ini hanya menahan pelemahan sesaat, tetapi BI benar-benar ikut berjibaku dalam menstabilkan mata uangnya," kata Ibrahim.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah Rp14.268 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.268 per dolar AS hingga Rp14.334 per dolar AS.

Koreksi IHSG

Sedangkan untuk perdagangan di lantai bursa, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI)  juga mengalami tekana jual  seiring koreksi bursa saham regional Asia.

Indeks ditutup  melemah 39,63 poin atau 0,63 persen ke posisi 6.210,96. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 9,11 poin atau 0,92 persen menjadi 976,34. "Jadi memang sudah masuk 'downtrend' dan asing melarikan dana dari saham-saham 'blue chips' khususnya bank, mereka beralih ke safe haven yaitu emas. Di sisi lain harga CPO 'rebound', sehingga fokus investasi ke depan adalah pada sektor emas dan CPO," kata analis Panin Sekuritas William Hartanto.

Penutupan IHSG diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual asing bersih atau "net foreign sell" sebesar Rp1,03 triliun.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 459.371 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 16,05 miliar lembar saham senilai Rp8,45 triliun. Sebanyak 152 saham naik, 260 saham menurun, dan 133 saham tidak bergerak nilainya.