BREAKINGNEWS.CO.ID - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakhir di kurva positif saat berakhirnya perdagangan di lantai Bursa Efek Indonesia, Rabu (28/8/2019). Ini mengikuti trend sehari sebelumnya yang juga tercatat lebih baik dibanding sebelumnya. Hari ini, indeks ditutup menguat 3,48 poin atau naik 0,06 persen ke posisi 6.281,65.  

Sebaliknya, nilai tukar mata uang garuda ditutup turun dibanding sebelumnya Rupiah melemah 4 poin atau 0,03 persen menjadi Rp14.259 per dolar AS dari sebelumnya Rp14.255 per dolar AS.

Menurut analis  dari Binaartha Sekuritas M Nafan Aji Gusta Utama,  para pelaku pasar masih mengapresiasi terkait dengan kondisi fundamental makroekonomi domestik yang masih cenderung stabil di tengah ketidakpastian global. "Hal ini bisa melalui kebijakan dalam mendorong stimulus pertumbuhan ekonomi, revolusi industri 4.0, seperti pengembangan KEK di sektor pariwisata, dan pemindahan ibu kota baru dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah Kalimantan," ujar Nafan.

Dibuka menguat, IHSG nyaman berada di teritori positif pada sesi pertama. Pada sesi kedua, indeks sempat melemah namun jelang penutupan bursa saham kembali menguat.

Penutupan IHSG sendiri diiringi aksi jual saham oleh investor asing yang ditunjukkan dengan jumlah jual asing bersih atau "net foreign sell" sebesar Rp343,64 miliar.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 505.020 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 15,08 miliar lembar saham senilai Rp7,77 triliun. Sebanyak 180 saham naik, 232 saham menurun, dan 143 saham tidak bergerak nilainya.

Rupiah Loyo

Pelemahan yang terjadi terhadap rupiah terjadi karena kekhawatiran terhadap bayangan sentiment perang dagang AS dan China. "Bisa jadi, dalam waktu dekat perang dagang kedua negara akan kembali tereskalasi dan membuat laju perekonomian kedua negara, berikut dunia, mengalami yang namanya 'hard landing'," kata Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi.

 Menurut Ibrahim, eskalasi perang dagang AS-China bisa membawa perekonomian AS jatuh ke jurang resesi. "Berbicara mengenai resesi, kita masuk ke sentimen ketiga yang harus dicermati pelaku pasar. Dalam beberapa waktu terakhir, yield obligasi AS tenor 2 tahun sempat beberapa kali bergerak melampaui yield obligasi AS tenor 10 tahun," ujarnya.

Fenomena tersebut, lanjut Ibrahim, disebut sebagai inversi. Inversi merupakan sebuah fenomena di mana imbal hasil (yield) obligasi tenor pendek berada di posisi yang lebih tinggi dibandingkan tenor panjang.

Padahal dalam kondisi normal, "yield" tenor panjang akan lebih tinggi karena memegang obligasi tenor panjang pastilah lebih berisiko ketimbang tenor pendek.

Rupiah pada pagi hari dibuka melemah Rp14.258 dolar AS. Sepanjang hari, rupiah bergerak di kisaran Rp14.255 per dolar AS hingga Rp14.269 per dolar AS.