BREAKINGNEWS.CO.ID -   Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa  (10/7/2018) dibuka menguat 31,66 poin atau 0,55 persen menjadi 5.839,04 poin, bergerak seiring dengan menguatnya bursa saham regional.

Sementara kelompok 45 saham unggulan atau LQ45 bergerak naik 8,01 poin (0,87 persen) menjadi 924,87. "Penguatan IHSG didukung oleh sentimen yang ada, di antaranya positifnya laju bursa saham global yang diikuti terapresiasinya rupiah dengan memanfaatkan pelemahan USD karena kurang kuatnya data-data ketenagakerjaan," kata analis senior CSA Research Institute Reza Priyambada Selasa (10/7/2018).

Bursa saham Amerika Serikat berlanjut melaju positif, terutama dengan dukungan kenaikan saham-saham perbankan dan teknologi, dan pelaku pasar memanfaatkannya untuk kembali masuk bursa dan mengesampingkan sentimen dari perang dagang. "Positifnya laju bursa saham AS di akhir pekan kemarin memberikan dampak positif pada pergerakan bursa saham Asia di awal pekan ini. Tampaknya kekhawatiran akan balasan pengenaan tarif dagang oleh AS terhadap Tiongkok terimbangi dengan rilis data-data ketenagakerjaan AS yang tidak begitu kuat sehingga memberikan persepsi akan ditundanya kenaikan kembali suku bunga The Fed," ujar Reza.

IHSG diperkirakan dapat bertahan di kisaran support 5.778 sampai 5.787 dan resisten 5.828 sampai 5.842. Sementara di bursa regional, indeks Nikkei naik 189,85 poin (0,86 persen) ke 22.242,03; indeks Hang Seng naik 220,65 poin (0,77 persen) ke 28.909,15; dan Straits Times menguat 35,31 poin (1,09 persen) ke posisi 3.264,13.

Harga Minyak Menguat

Dari bursa minyak mentah dunia, harga emas hitam ini dibuka menguat pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB). Hal itu ditandai dengan ekspektasi penghentian produksi Kanada yang berlangsung hingga September.

Sementara itu, patokan global Brent naik dipicu kian mendekatnya penerapan sanksi-sanksi Amerika Serikat terhadap Iran dan penurunan produksi di Libya.

Minyak mentah berjangka AS atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik 5,0 sen AS menjadi menetap di 73,85 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange.

Sedangkan, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman September bertambah 96 sen AS menjadi 78,07 dolar AS per barel di London ICE Futures Exchange. "Kami terus melihat pasar minyak didukung, dengan meningkatnya kekhawatiran tentang sanksi terhadap Iran, dimana para penyuling Eropa dan Korea harus mengurangi pembelian mereka hampir nol," kata Andrew Lipow, presiden Lipow Oil Associates.

Amerika Serikat mengatakan ingin mengurangi ekspor minyak dari Iran, produsen terbesar kelima dunia, menjadi nol pada November, yang akan mewajibkan produsen besar lainnya untuk memproduksi minyak lebih banyak.