BREAKINGNEWS.CO.ID - Deadline tiga bulan yang dilontarkan Presiden Joko Widodo bagi Kepolisan RI untuk mengungkap kasus penyerangan Novel Baswedan, terus berdetik. Tak mau terlambat,  Mabes Polri langsung membentuk Tim Teknis untuk mengungkap kasus penyiraman air keras pada 11 April 2017 di Kelapa Gading, Jakarta itu. Tim teknis Polri ini akan mulai bekerja pada awal Agustus 2019.

"Tim teknis beberapa minggu ke depan, Insya Allah awal bulan Agustus sudah dimulai kalau dalam prediksi saya," kata Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Polri Muhammad Iqbal  di Mabes Polri, Senin (22/7).  Tim itu akan dipimpin langsung oleh Kepala Bareskrim Mabes Polri Komisaris Jenderal Idham Azis. Tim ini akan menindaklanjuti hasil penyelidikan Tim Gabungan yang dibentuk Kapolri Jenderal Tito Karnavian.

Tim Gabungan sudah gagal mengungkap pelaku, dalang, dan motif penyerangan terhadap Novel. Pembentukan Tim Teknis diharap bisa menuntaskan kasus tersebut. Iqbal mengatakan Idham Azis saat ini tengah mempelajari temuan-temuan dari  Tim Gabungan.

"Itu kan tebal, berapa halaman tuh, dan itu harus dipelajari secara komprehensif. Ini, kan, upaya penyelidikan dan penyidikan selanjutnya," ujar Idham Azis.

Tugas lain Idham yang sangat penting kali ini adalah memilih personel-personel Tim Teknis. Anggota tim ini akan direkrut dari tubuh Polri sendiri, seperti dari INAFIS, Pusident, sampai Detasemen Khusus 88 Antiteror. Iqbal mengatakan butuh waktu bagi Idham untuk mengerjakan tugas-tugas itu.

"Ini masih perlu waktu untuk mempelajari dan memilih, yang paling penting untuk mempelajari itu dulu karena harus di-slide-kan dilihat dan dipersesuaikan, bukan hanya cuma membaca, melalukan rapat, gelar, dan lain-lain," tambahnya.

Kepala Bagian Penerangan Umum (Kabagpenum) Divisi Humas Polri Komisaris Besar Asep Adi Saputra, juga menyatakan bahwa Tim Teknis akan dibentuk dalam waktu dekat ini.  Setelah terbentuk Tim Teknis kembali menggelar olah kejadian tempat perkara (TKP) jika dirasa perlu. Selain itu juga pemeriksaan saksi-saksi dengan harapan ada hal lain yang diingat oleh saksi.

"Kalau masih dianggap perlu dan dianggap penting olah TKP itu dilakukan berkali-kali, tidak menjadi masalah karena olah TKP bukan hanya persoalan barang bukti saja, mungkin para saksi itu belum bicara, belum ditemukan," tuturnya.

Presiden Jokowi memberikan batas waktu tiga bulan untuk Tim Teknis mengungkap pelaku penyerangan terhadap. Jokowi menyatakan penyiraman air keras ke Novel bukan kasus yang mudah. Menurutnya, jika kasus yang menimpa salah satu penyidik senior KPK itu mudah, maka dalam waktu satu sampai dua hari pelaku sudah bisa diungkap.