PANDEGLANG - Warni (32), seorang ibu dengan empat orang anak cuma dapat berbaring menahan sakit dengan tangis. Wanita asal Desa Kaduengang, Cadasari, Pandeglang ini menderita kanker payudara. Telah berbulan-bulan payudaranya membusuk serta mengering.

Karena menahan sakit, Warni mengakui susah tidur serta memejamkan mata. Beragam obat dari mulai tradisional hingga moderen telah pernah ia minum. Beragam penyembuhan alternatif hingga jampi-jampi sempat Warni coba.

Ia menceritakan, awalannya satu tahun lebih lalu ada tonjolan di salah satu sisi payudara serta merasa sakit. Lantaran mengira cuma penyakit biasa, ia mengobatinya cuma dengan suntikan.

Tidak berapa lama, sakit yang dirasanya hilang terlebih mulai sejak ia mulai hamil anak keempat. Tetapi begitu melahirkan, keadaan berubah.

"Semenjak punya anak umuran berapa bulan mengkerut-mengkerut terus membusuk payudaranya. Satunya juga ikut busuk," kata Warni kepada wartawan saat ditemui di kediamannya, Cadasari, Pandeglang, Rabu (16/8/2017).

Saat itu, Warni mengakui belum juga mempunyai kartu BPJS Kesehatan. Ia baru mengurusnya setengah bulan lalu untuk kepentingan pemeriksaan di rumah sakit. Tetapi, itu juga sudah terlambat, kedua payudaranya makin mengkerut serta membusuk.

Satu bulan lalu dirinya sempat lakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Pandeglang. Dua hari satu malam dirinya cuma ditempatkan di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Ia juga tidak dapat dirawat lantaran kamar penuh. Lalu dirinya dibawa ke instalasi bedah.

Sesudah diperiksa oleh poli bedah, dokter menyarankannya untuk dirawat. Keluarga juga mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) supaya Warni dapat dirawat di RS. Mulai sejak saat itu, Warni baru ketahui dirinya menderita kanker payudara.

Lantas pihak RS mengambil sampel yang diambil dibagian payudaranya tetapi ia diminta dirujuk ke RS Cipto Mangunkusumo di Jakarta. Ia juga mengakui bimbang lantaran tidak memiliki biaya pengobatan.

Warung yang keseharian dipakai untuk membiayai penyembuhan juga telah bangkrut. Rujukan ke RSCM menurut dia memberatkan keluarga. Di sisi lain, Warni mengakui masih tetap bingung. Ada beberapa orang yang mengatakannya terserang kanker, tetapi ada dokter yang memvonisnya terserang tumor.

"Kata bapaknya gimana kalau di bawa ke RS Jakarta. (Tapi) Operasional kita gimana. Di sananya gimana. Nanya orang harus makan dan minum. Di sana kan pada mahal," ujarnya sambil menangis sedih.

Sekarang ini, Warni mengaku sakit yang dirasakannya makin parah. Tangan bagian kirinya juga membengkak serta sakit terus-menerus. Ia dengan suaminya yang kerja serabutan mengiba bantuan pemerintah. Ia menginginkan selekasnya dibawa ke RS untuk memperoleh perawatan.

"Obat-obatan, udah berobat apapun. Pokoknya obat apa yang disuruh orang sudah saya minum. Diobatin sama kiai juga masih," ujarnya.