BREAKINGNEWS.CO.ID - Pemerintah Indonesia mendesak Cina untuk segera mencari cara guna menangani demonstrasi besar-besaran yang sudah berlangsung di Hong Kong sejak awal Juni 2019 lalu.

Menurut pelaksana tugas juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Teuku Faizasyah, gangguan perekonomian yang disebabkan unjuk rasa di Hong Kong tidak hanya akan merugikan Cina dan wilayahnya itu tapi juga di kawasan. "Cina dengan kebijakan satu negara dengan dua sistem harus bisa mencari cara menangani situasi ini (di Hong Kong). Setiap gangguan ekonomi yang muncul tidak hanya akan mempengaruhi Cina dan Hong Kong tapi juga kawasan," kata Faizasyah dalam jumpa pers rutin di kantornya, Selasa (6/8/2019).

Hong Kong terus terperosok ke dalam krisis politik terburuk sejak demonstrasi yang berlangsung pada awal Juni lalu. Jutaan orang dilaporkan telah turun ke jalan. Unjuk rasa diawali oleh protes warga terkait rancangan undang-undang ekstradisi yang memungkinkan tahanan Hong Kong diekstradisi ke Cina.

Walaupun pemerintah dan parlemen telah membatalkan RUU itu, para pemrotes tetap berunjuk rasa menuntut Pemimpin Hong Kong, Carrie Lam, mundur. Para pengunjuk rasa juga menuntut otoritas Hong Kong memberikan kebebasan berekspresi dan membebaskan para pedemo yang ditahan. Tidak hanya jalanan, demonstrasi juga berlangsung di depan kantor parlemen, gedung Kantor Perhubungan dengan Cina, hingga terminal kedatangan Bandara Internasional Hong Kong. 

Pertikaian antara polisi dan demonstran, serta antara kelompok lain dan demonstran juga tak terelakkan di sejumlah wilayah. Unjuk rasa juga masih terus berlangsung sejak awal pekan ini, di mana para demonstran bertekad akan melakukan protes yang lebih besar dan sporadis lagi agar bisa melumpuhkan Hong Kong.

Awal pekan ini, sekitar 150 penerbangan dari dan menuju Hong Kong terpaksa dibatalkan. Sebagian layanan transportasi seperti Mass Transit Rail (MTR) berhenti beroperasi akibat situasi di wilayah itu. Unjuk rasa selama akhir pekan kemarin juga berlangsung rusuh di mana aparat kepolisian sampai harus menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa. Pemerintah Hong Kong menganggap protes kemarin telah menggiring wilayah itu "ke situasi yang sangat berbahaya."

Cina juga telah mengecam demo tersebut hingga mengancam akan mengerahkan pasukannya untuk menertibkan Hong Kong jika pemerintah setempat meminta bantuan. Sementara itu, Faizasyah juga turut mengimbau agar seluruh 174.800 WNI di Hong Kong untuk menghindari keramaian dan tempat berkumpulnya massa. Ia meminta warga negara Indonesia (WNI) yang berada di sana untuk tidak melakukan aktivitas yang bisa membahayakan keamanan dalam situasi seperti ini.