BREAKINGNEWS.CO.ID - Tokoh kontroversial, penulis ratusan buku, anti-Darwinisme, anti-Zionis dan anti-Fremasonry, Adnan Oktar atau Harun Yahya yang pada akhirnya ditangkap oleh aparat kepolisian Istanbul, Turki pada Rabu (11/7/2018) atas tuduhan mendirikan organisasi kejahatan dan serangkaian tindakan kriminal lainnya, sempat melontarkan dukungannya kepada Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Dilansir Middle East Eye, di era 1990, kelompok Oktar pernah menyatakan dukungan kepada Necmettin Erbakan, seorang politikus konservatif, mantan Perdana Menteri dan mantan Ketua Partai Kesejahteraan, yang kemudian berubah menjadi Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) yang saat ini berkuasa.

Beberapa waktu terakhir ini, Oktar menyampaikan dukungannya kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan."Saya cinta Mr. Erdogan dengan sepenuh hati dan jiwa. Dia merupakan pria jujur. Saya sudah menyampaikan dukungan yang tidak tergoyahkan untuk dia sejak Erdogan menjadi presiden. Dan saya tidak akan pernah berbicara atau membiarkan orang lain berbicara menentangnya. Saya akan membelanya dengan hidup saya sendiri," katanya di sebuah tayangan acara televisi pada Januari , seperti dilansir Middle East Eye.

Menurut media Turki, saat ditangkap pada Rabu (11/7), Oktar mengaku terkejut karena dia memberi dukungan kepada Erdogan dalam pemilihan Juni 2018 lalu. Dia mengaku yakin bahwa Presiden Erdogan tidak mengetahui operasi penangkapannya. Sederet tuduhan yang dihadapi Oktar antara lain hubungan seksual dengan anak di bawah umur, penculikan anak-anak, pelecehan seksual, pemerasan, menahan orang sebagai tawanan, ancaman, spionase politik dan militer, penipuan dengan mengeksploitasi perasaan dan keyakinan agama.

Oktar alias Harun Yahya juga menghadapi tuduhan pencucian uang, pelanggaran privasi, pemalsuan dokumen resmi, penolakan undang-undang anti-teror, pemaksaan, fitnah. Dia juga dituduh mengelakkan orang dari wajib militer, penghinaan, tuduhan palsu, sumpah palsu, penipuan. Sejumlah tuduhan itu diperparah dengan penentangan terhadap hukum penyelundupan, aturan pajak, penyuapan, mencegah hak pendidikan dan hak sipil, penyiksaan, pencatatan data pribadi secara ilegal serta tidak mematuhi hukum perihal perlindungan keluarga dan wanita. Harun Yahya alias Adnan Oktar ditangkap Kepolisian Istanbul, Turki, bersama dengan sekitar 166 pengikutnya, 100 di antaranya wanita.