JAKARTA -  Siapa yang tidak kenal Harley-Davidson, motor berukuran besar ini merupakan sebuah kendaraan roda dua yang telah menjadi legenda. Baru-baru ini pabrikan asal Amerika Serikat mengkonfirmasi bahwa mereka akan memasuki pasar motor bertenaga listrik. Harley-Davidson menyatakan siap memasarkan motor listrik dalam 18 bulan mendatang.

Seperti yang dilansir The Verge, Rabu (31/01/2018), perusahaan asal Amerika Serikat itu dipastikan segera merilis sepeda motor elektrik tahun depan. Kepala keuangan John Olin mengatakan perusahaan telah menggelontorkan 25 juta sampai 50 juta dolar AS (sekitar Rp336,3 miliar hingga Rp672,6 miliar) untuk pengembangan teknologi tersebut. Sementara visi utamanya adalah menjadi pemimpin dalam bidang sepeda motor elektrik.

Berita baiknya, Harley-Davidson telah mengembangkan prototipe ‘moge’ bernama LiveWire sejak tahun 2014. Mungkin Anda tidak menyadarinya, tetapi sepeda motor ini sempat tampil di film Avengers: Age of Ultron pada 2015. Prototipe LiveWire dilaporkan dapat menjelajah hingga 80 km dalam sekali pengisian. Akselerasi 0-100 km/jam bisa dicapai dalam empat  detik. Desainnya juga sangat futuristis, bertolak belakang dengan deretan sepeda motor yang pernah dirilisnya.

Memang desain modern-futuristik belakangan sangat diminati sebagai alat transportasi. Perubahan ini sangat ekstrim untuk kultur perusahaan. Sepeda motor Harley-Davidson yang memiliki ciri khas suara mesin ‘ngebass’ dan paling mudah diketahui saat melintas. Di AS sendiri, sebanyak 32.000 pemilik Harley-Davidson membeli komponen khusus untuk memaksimalkan suaranya. Sedangkan kendaraan elektrik punya mesin yang sangat sunyi dan nyaris bebas suara. Tidak diragukan lagi bahwa ciri khas ini akan hilang.

Prediksinya, perusahaan akan merilis sepeda motor elektrik pertama mereka pada 2019 mendatang. Langkah ini diambil untuk menyelamatkan penjualan yang terus menyusut dalam beberapa tahun terakhir. Laporan tahun 2017 lalu mereka mengalami penurunan hingga 6,7 persen. Namun itu tidak seberapa dengan yang terjadi di negeri asalnya, AS mencapai 8,5 persen.

Langkah besar ini mau tidak mau harus diambil untuk melanjutkan eksistensi perusahaannya. Keputusan Harley-Davidson tidak teramat telat, sebab mayoritas produsen otomotif saat ini sedang sibuk mengerjakan mobil elektrik.