BREAKINGNEWS.CO.ID-Usia menua bukanlah pembendung dalam berkarya. Dia hanyalah kerikil yang sedikit melambatkan langkah. Selama keinginan kuat masih menyala, kreativitas akan menemukan jalan lapang yang terang. Tidak ada kata terlambat. Setiap orang harus memandang jauh ke depan demi mendapatkan arah dan kemungkinan tindakan yang lebih bermakna. 

Salah satu bentuknya adalah melakukan kontemplasi, seperti halnya yang dilakukan oleh Hariyanto Boejl, pewarta foto yang menyukai lagu-lagu balada dan kini meneguhkan diri untuk 'bermusikalisasi-puisi'.  “Semoga lagu Kontemplasi bisa memberikan inspirasi bagi semua orang yang terjun dalam berbagai profesi,” ungkap Hariyanto Boejl di Amigos, Kemang, Jakarta Selatan, Selasa (24/7/2018) malam.

Sepak terjang Boejl, dalam blantika musik nasional memang tergolong baru. Namun, suami dari Etty Novitasari, 44 tahun, tetap memiliki tekad kuat untuk berkreasi dalam dimensi berbeda.

“Setelah puluhan tahun malang-melintang di dunia fotografi, saya pun merasa dunia tarik suara bisa menghibur banyak orang sekaligus menebarkan kebaikan,” tutur Boejl, ayah dari Rinov Fajar Anugerah (19 tahun), Maurivi Putri Islamey (16 tahun), dan Viandryna Qanita Dawama (9 tahun). Boejl agak gamang saat disinggung bagaimana langkah dia kedepannya, apakah akan serius menjalani karir sebagai penyanyi atau tetap pada profesinya seperti sekarang ini. Akhirnya, dia bilang, "Saya tetap lebih senang disebut pewarta foto yang senang menyanyi."

Kontemplasi, menurut Boejl, sejatinya ekspresi perenungan dalam bentuk lirik yang diharmonisasikan dengan bunyi-bunyian. “Kontemplasi menjadi ruang evaluasi diri atas laku kehidupan yang telah saya jalani. Kontemplasi ada agar hidup senantiasa terjaga,” jelas Boejl.

Eksistensi kebudayaan, ucap Boejl, akan memberikan arah pada laku kehidupan, juga panduan bertumbuhnya kemajuan zaman. Sebagai anak kandung kebudayaan, harmonisasi lirik dan musik memiliki peran dominan dalam mencatat, merawat, dan mengembangkan tiap-tiap entitas peradaban.

Fungsi itu dijalankan sejak masa silam, sekarang, hingga kelak di hari depan. Lirik dan musik akan terus bertemali dengan kebudayaan. “Saya amat berhasrat mini album Kontemplasi mampu mengalirkan makna hingga sisi terdalam rasa. Namun, saya menyadari bahwa makna pada lirik dan musik membuka rupa-rupa tafsir dan argumentasi. Semua gading pasti retak. Begitu juga Kontemplasi. Ini hanyalah prolog. Dengan segala keresahan dan totalitas, saya akan terus mengembara hingga kelak bertemu epilog yang indah,” jelas Boejl.

Boejl mulai menekuni dunia musik sejak akhir 2016. Atas ajakan penyanyi soul Maxi Bahajjaj, yang lebih dikenal sebagai Maxi King of Soul. Boejl lalu dipercaya menjadi salah satu penyanyi dalam konser Walk of Fame, di Kemang, 6 Desember 2016. Lalu, bersama Ahmad Albar tampil dalam konser amal untuk korban gempa Pidie Jaya, Aceh, di Kemang, 22 Desember 2016. Sejak saat itu, Boejl kerap ikut ambil bagian dalam beberapa konser musik di Jakarta. Puncaknya, Boejl menggelar konser tunggal yang bertajuk Nyanyian Jiwa di Jakarta, Kamis, 13 April 2017.

Sehari-hari Boejl menjalani profesi sebagai jurnalis foto. Dia memulai karier sebagai pewarta foto Jawa Pos pada 1993. Setelah itu dia bekerja di berbagai media, termasuk menjadi editor foto di Tempo News Room.  Kini, Boejl menjadi Kepala Divisi Artistik dan Foto di Media Indonesia.

Puluhan penghargaan dari dalam dan luar negeri telah dia raih, antara lain The World IOC Sport Photographic Contest 1997, Highly Commended Ballantine’s International Photography Award 1996 United Kingdom, Citation Prize Omiya Humor Photo Contest, Japan 1997, Grand Prize Photo Competition Citra Indonesia British Council 1998, juara 1 Satwa Indonesia 2005 photo competition, pemenang utama Mochtar Lubis Award 2010, dan juara 1 National Geographic-Firstmedia Instagram photo Competition 2011.

Boejl juga aktif memberikan workshop fotografi jurnalistik, menjadi kurator buku-buku fotografi jurnalistik, penulis buku–buku fotografi dan menjadi juri berbagai lomba foto berskala nasional maupun internasional sejak 2005.